Primata, evolusi, anarki(sme) (Bagian 1)

Tanggapan
atas Bima Satria Putra 
[2]   (Anarkis.org)

Oleh: Terrik Matahari

Pendahuluan

Membaca tulisan Bima yang berjudul: “Primata, Hierarki, Revolusi” membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa Bima tidak mengerti dengan apa yang ditulisnya. Kenapa? Pertama, dengan menggunakan cocokologi Bima berusaha mengait-ngaitkan perilaku sosial simpanse dengan perilaku sosial manusia, lebih buruk lagi dengan mengatakan perilaku agonistik simpanse sebagai upaya pembebasan. Ini aneh karena ia sendiri mengatakan bahwa ada sistem hierarki pada kelompok simpanse. Kedua, dengan mengklaim diri sebagai seorang darwinian, Bima mereduksi evolusi hanya pada mekanisme seleksi alam. Dalam sub-judul kedua (Belajar Dari Primata) alih-alih menjelaskan apa saja yang dapat dipelajari, Bima malah menjelaskan secara serampangan soal evolusi. Karakter reduksionis dalam tulisannya hampir ditemukan dalam keseluruhan teks. Ketiga, dengan menggunakan judul yang genit dan teks layaknya jargon aktivis, Bima jatuh pada glorifikasi anarki(sme). Ini adalah semangat idealisme buta atas anarki(sme). Jujur, saya menemukan spirit mesianistik ditulisan tersebut, seakan-akan anarki(sme) adalah nubuat dan Bima adalah nabinya.

Namun saya secara pribadi berterimaksih pada Bima yang lewat artikelnya telah memberikan ruang untuk diskusi, meskipun membutuhkan waktu hampir 6 bulan untuk menuliskan tanggapan sejak artikelnya dipublikasi. Saya pertama kali membaca artikel ini akhir Februari 2017, beberapa hari sebelum keberangkatan menuju 2 kepulauan paling utara Sulawesi. Terbatasnya waktu menyebabkan kesempatan menuliskan tanggapan ini tidak kesampaian. Beberapa minggu yang lalu, akhirnya tanggapan ini bisa dituliskan. Saya memulainya dengan gambaran singkat soal primata dan etologi, dalam upaya mengenal–meminjam kalimat Bima–“saudara jauh kita”.

Dalam artikel ini saya tidak bermaksud untuk membahas secara detail soal laporan pembunuhan simpanse dalam satu kelompok yang sama, yang menjadi dasar penulisan artikelnya Bima. Lewat artikel ini saya ingin menunjukan kekeliruan perspektif Bima, serta ingin mengusulkan apa yang bisa kita pelajari dari teksnya dan membangun diskusi terkait evolusi tentu saja dalam perspektif subyektif saya sebagai penulis. Jika kemudian ini dianggap perspektif anarkis, itu urusan belakangan. Lagipula saya tidak mencoba menawarkan sesuatu yang baru dalam tulisan ini. Khusus soal evolusi, saya mengajukan beberapa pertanyaan, yaitu: apa relevansi evolusi bagi anarki(sme)? Apakah teori ini dapat dirangkul dan hal-hal apa saja yang dapat diambil darinya, atau apa saja yang perlu dicurigai? Serta adakah peluang untuk membawanya ketataran praksis?.

 

Primata, etologi dan evolusi

“No matter what you do. You’ll never be one of them. You are Ape.”

(Caesar – War For The Planet Of The Apes)

 Primates dalam bahasa latin berarti yang pertama, terbaik dan mulia. Secara taksonomi terpisah dalam 2 kelompok: Strepsirrhini (Prosimians) dan Haplorhini (Simians); manusia dan simpanse masuk di dalamnya. Walau berbagi famili yang sama; homonidae (kera besar), keduanya kemudian berpisah ke dalam genus yang berbeda. Sebagai sebuah ordo, primata terdiri dari kurang lebih tiga ratusan spesies, dan terus bertambah akibat proses spesiasi yang terus berlangsung dan review taksonomi. Kera (ape) dan monyet (monkey) adalah dua hal yang berbeda, tapi sangat umum digunakan secara salah seperti yang dilakukan Bima. Kera merupakan anggota super famili Hominoidea dan terdiri dari 2 famili: Hylobatidae dan Homonidae, yang kemudian kita kenal sebagai kera besar (great apes): manusia, simpanse, orangutan, gorila dan bonobo. Dan kera kecil (lesser apes): gibon dan siamang (owa jawa termasuk di dalamnya). Sedangkan monyet terdiri dari monyet dunia lama (Old World monkeys) dan monyet dunia baru (New World monkeys), di Indonesia, monyet hitam sulawesi (Macaca nigra), bekantan (Nasalis larvatus) dan lutung (Trachypithecus auratus) termasuk dalam monyet dunia lama. Manusia dan simpanse pada akhirnya berpisah pada tataran genus, Homo dan Pan.

Penelitian perilaku hewan umumnya dilakukan untuk memahami pola aktivitas, fungsi perilaku, faktor yang mempengaruhi, hubungan dengan ekosistemnya, bahkan lebih jauh lagi untuk memahami proses evolusi. Kedekatan taksonomi dengan manusia, membuat penelitian mengenai nonhuman primates (primata nonmanusia) meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Saat ini penelitian pada ordo primata tidak hanya menjadi fokus penelitian pada bidang biologi, ekologi dan etologi, tapi meluas pada bidang ilmu psikologi, antropologi, komunikasi hingga neurosains. Hal ini didorong bukan karena uniknya perilaku primata, tapi lebih pada anggapan kemiripan perilaku mereka dengan manusia[3]. Para peneliti terus-menerus dikejutkan dengan perilaku kera dan monyet yang menunjukan seberapa dekatnya perilaku mereka dengan perilaku manusia. Data ini tidak hanya berguna untuk memahami perilaku mereka dalam upaya pelestarian, lebih dari itu untuk memahami asal-usul manusia itu sendiri. Mengetahui akar kelompok sosial, agresi, komunikasi, proses kognitif, aktivitas seksual, dll. Data tersebut digunakan oleh para darwinis sosial untuk melegitimasi persaingan, hierarki, dominasi dan keistimewaan “kelompok” tertentu sebagai konsekuensi nyata dari proses evolusi. Hal ini akan coba saya diskusikan kemudian.

Tahun ‘60-70an terjadi perubahan besar pada ilmu etologi dari ilmu perilaku hewan klasik yang hanya melihat murni pada perilaku spesies hewan tertentu, berkembang menjadi etologi dengan metode komparatif. Metode ini berasumsi bahwa perilaku spesies hewan (khususnya perilaku sosial) bisa dikomparasikan dengan perilaku spesies yang lain, khususnya manusia. Tahun 1970 John H. Crook menerbitkan sebuah makalah yang membedakan etologi komparatif dari etologi sosial, pada tahun yang sama terbit buku The Social Contract: A Personal Inquiry into the Evolutionary Sources of Order and Disorder  yang ditulis Robert Ardrey, secara garis besar merupakan penyelidikan perilaku hewan dan perbandingannya dengan perilaku manusia sebagai sebuah fenomena yang sama. Tahun 1975 terbit buku Sociobiology: The New Synthesis yang ditulis oleh Edward. O. Wilson, menegaskan bahwa fenomena perilaku dari yang sederhana sampai yang komples dapat dijelaskan sebagai fenomena biologis, serta menjelaskan hubungan perilaku dan genetik. Setahun kemudian buku The Selfish Gene yang ditulis oleh Richard Dawkins terbit, walau topiknya banyak membahas soal determinisme gen, dalam buku ini juga dibicarakan tentang altruisme dan mutualisme. Dalam buku ini disebutkan bahwa keegoisan gen dapat menimbulkan keegoisan perilaku. Sebenarnya, sebelum adanya perubahan pada pendekatan etologi, telah terjadi perdebatan pada beberapa cabang ilmu yang terpengaruh dengan teori evolusi Darwin; aliran strukturalisme dan fungsionalisme pada psikologi, serta teori evolusionisme dan teori difusionisme pada antropologi. Karena keterbatasan saya dalam bidang ini maka saya tidak banyak membahasnya.

Pada tahun ini, sebuah publikasi penelitian etologi komparatif[4] dipublikasikan pada International Journal Of Primatology dengan judulIntragroup Lethal Aggression in West African Chimpanzees (Pan troglodytes verus): Inferred Killing of a Former Alpha Male at Fongoli, Senegal. Februari 2017. Volume 38, Issue 1, pp 31–57, yang kemudian dimuat dalam sciencealert.com[5]. Publikasi ini sebenarnya adalah laporan dari pengamatan pembunuhan anggota kelompok simpanse yang terjadi tahun 2013. Laporan ini kemudian booming dan menarik perhatian jurnal bergengsi Nature serta dibahas oleh National Geography, The Los Angeles Times, The Boston Globe, The Washington Post, Daily Mail dan USA Today. Hampir semua pembahasan laporan ini berujung pada pertanyaan “Bagaimana hubungannya dengan manusia? Apakah ini bukti bahwa kekerasan dan pembunuhan adalah natural seperti yang ditunjukan oleh simpanse yang secara taksonomi dekat dengan manusia dan berbagi akar evolusi yang sama? Dapatkah hal ini menjelaskan akar perilaku “perang”, hierarki dan dominasi pada manusia?”.

Laporan fenomena pembunuhan seekor simpanse oleh kawanan simpanse dalam satu kelompok yang sama menjadi kajian yang menarik bagi primatog, psikolog dan antropolog. Simpanse sebagai hewan agresif diketahui dapat membunuh simpanse lainnya di luar kelompok, ternyata terdokumentasi juga dapat membunuh individu dalam kelompoknya sendiri (teman). Apa penyebabnya? Sampai saat ini terdapat banyak jawaban sementara oleh para peneliti: dorongan seksual, persaingan sumberdaya, kepadatan populasi, hierarki dominasi, pengaruh manusia, dll.

 

Reduksionisme dan konsekuensinya

“The spectacle inherits the weakness of the Western philosophical project, which attempted to understand activity by means of the categories of vision, and it is based on the relentless development of the particular technical rationality that grew out of that form of thought. The spectacle does not realize philosophy, it philosophizes reality, reducing everyone’s concrete life to a universe of speculation.”  

(Guy Debord – Society Of The Spectacle)

 Ternyata tidak hanya peneliti yang tertarik dangan laporan pembunuhan simpanse tersebut.  Berbeda dengan peneliti yang datang dengan berbagai pertanyaan dan hipotesis, Bima datang dengan beberapa jawaban dan kesimpulan. Dengan mencoba mengkorelasikan antara laporan pembunuhan simpanse dengan gerakan pembebasan dan/atau anarkisme, Bima memulai analisisnya dengan evolusi khususnya pada primata. Namun tanpa berhasil membahas soal evolusi, Bima langsung melompat pada pembenaran-pembenaran spekulatif mengenai sebab-musabab hierarki, penindasan, dan ketidakadilan. Kemudian dengan semangat idealisnya, Bima sampai pada kesimpulan yang juga sangat spekulatif: evolusi menjadi satu-satunya jawaban.

Mengakui ketidak-tahuannya tentang relevansi antara primatologi dan bidang ilmu sosial-humaniora, alih-alih bertanya, Bima langsung berspekulasi. Dengan klaim darwinis Bima berpendapat:

“Aku tidak tahu bagaimana relevansi primatologi pada bidang ilmu sosial-humaniora. Tetapi sebagai seorang darwinis, aku percaya bahwa fenomena-fenomena yang bisa diamati pada saudara jauh kita seperti simpanse, gorila dan orang utan punya korelasi langsung dengan apa yang kita lakukan. Hal ini menjadi semacam cermin bagi perilaku kita.” 

Saya paling tidak mengidentifikasi ada dua hal yang patut dicurigai dalam paragraf ini: reduksionisme dan idealisme. Sebagai sebuah metode, reduksionisme mungkin bisa digunakan sebagai langkah awal dalam upaya menjelaskan fenomena dengan terlebih dahulu membaginya dalam bagian-bagian, kemudian dianalisis. Tapi apakah sebagian dapat menjelaskaan keseluruhan? Belum tentu. Reduksionisme umumnya berakhir pada pemaknaan realitas yang keliru. Kalau tidak berujung pada overgeneralisasi, jatuh pada oversimplifikasi.

Kompleksitas organisme tidak mungkin dijelaskan berdasarkan satu fenomena. Ini mengabaikan keragaman variabel dan peluang lainnya. Oleh karena itu, reduksionisme sekali lagi tidak lebih dari upaya awal, tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya jalan. Jika kita tarik pada ranah gerakan sosial misalnya, saya pikir kita akan banyak menemukan implikasi reduksionisme dalam gerakan sosial di Indonesia, misalnya gerakan penolakan reklamasi atau penolakan tambang yang hanya menyasar kesalahan prosedural perijinan dan kebijakan (AMDAL, ijin lingkungan, Perpres, UU, dll) sementara sasaran di luar itu adalah haram. Umum sekali kita mendengar jargon “salah urus negara” pada kampanye NGO dan gerakan mahasiswa dalam menanggapi isu lingkungan. Seakan-akan, semua kerusakan lingkungan disebabkan oleh kesalahan kebijakan semata. Jangan heran jika keluarnya kebijakan baru yang dianggap ramah lingkungan dan populis malah tidak akan berdampak apa-apa. Kesalahan kebijakan akan dijawab dengan kebijakan yang dianggap benar. Bahayanya tidak sampai di sini. Gerakan rakyat yang diorganisir (baca:digembalakan), dikanalisasi lewat upaya-upaya hearing dan menunggu kebijakan-kebijakan yang tidak pernah bijak sejak ia berada dalam logika negara dan kapitalisme itu sendiri.

Indonesia sendiri tentu memiliki keunikannya masing-masing dengan ragam budaya, lansekap, dan ekosistemnya. Ketika kita menemukan kesamaan masalah, mengingat geografi dan spasial bukanlah pembatas bagi ekspansi kapital dan penyeragaman adalah bagian dari ekspansi kapital itu sendiri, maka meminjam istilah Renzo Navatore, kita perlu “The Revolt of the Unique”, yang tidak seragam dan mengejutkan. Kalau kita kemudian melihat bahwa otoritas itu tampak dengan berbagai varian, maka sepertinya salah satu yang harus diupayakan adalah menciptakan sebanyak mungkin variasi perlawanan sekaligus menciptakan ruang-ruang bebas yang otonom. Atau meminjam istilah grup informal anarkis insureksionis: polymorphism; keberagaman bentuk perlawanan, tanpa standarisasi dan ukuran tertentu. Yang penting di sini adalah menghubungkan perlawanan tersebut tanpa upaya menunggalkannya. Karena berbeda dengan Leninis yang berusaha menyatukan kelas pekerja ke dalam satu partai tunggal, anarki(sme) melihat sebaliknya, seperti kalimat Enzo Martucci: “Anarchy is the aggregation of innumerable and varied forms of life lived in solitude or in free association”. Upaya generalisasi dan atau simplifikasi, tidak lain adalah pengerdilan kemungkinan-kemungkinan. Ini adalah karakter aktivisme, para poser dan hipster yang akan berkata: “harusnya gampang dibikin susah, go ahead aja!!!”, lalu menutup pembicaraan dengan “entar juga lo paham” saat tidak bisa menjelaskan lebih banyak.

Hal ini yang kemudian saya lihat pada generalisasi Bima dengan lebih banyak pada upaya klaim ketimbang upaya penyelidikan. Coba lihat pada artikel Aksi Petani Kendeng Yang Anarkis[6]. Berangkat dari komparasi dua gerakan protes yang berbeda  (protes di Seattle dan aksi mencor kaki petani Kendeng) Bima sampai pada kesimpulan (kalau tidak bisa dibilang klaim) bahwa kedua aksi tersebut secara prisip sama: anarkis. Kenapa ini sebuah upaya generalisasi dan oversimplifikasi? Pertama, apakah Bima lupa bahwa tidak semua peserta aksi di Seattle adalah anarkis? Bahkan black block dikecam oleh peserta aksi lainnya yang kompromis. Kedua, walaupun terkesan memiliki pandangan yang sama soal kapitalisme, terdapat berbagai varian kepentingan di dalamnya. Ini terlihat dari beragam latar belakang peserta protes, Bima lupa menuliskan bahwa juga terdapat kelompok NGO yang secara terang-terangan menolak anarki(sme) yang terlibat dalam aksi tersebut. Selanjutnya varian tuntutan yang beragam mulai dari upaya reformasi dan transparansi ekonomi dunia, penghapusan WTO, kenaikan upah buruh, keadilan iklim, keadilan untuk petani, dll. Walaupun penghapusan WTO juga adalah isu yang diusung para anarkis, tapi keterlibatan kelompok anarkis sebenarnya lebih pada interupsi dan upaya menggagalkan pertemuan tersebut.

Di sisi lain Bima lupa bahwa aksi cor kaki adalah rangkaian dari aksi-aksi sebelumnya yang sangat kompromistis dan hierarkis. Bima sendiri mengakui dalam tulisan tersebut bahwa gerakan petani Kendeng masih belum keluar dari logika negara. Bagi saya aksi cor kaki adalah bentuk perlawanan simbolik sekaligus manifestasi dari sebuah solidaritas horisontal. Aksi ini bagaimanapun tidak kehilangan kadar “revolusionernya”. Ini adalah varian aksi alternatif yang lebih bernyawa dari pada aksi parade yang dipimpin satu korlap dan berbaris rapi seperti tentara. Namun dengan mengklaim bahwa aksi tersebut sebagai aksi anarkis, ini mengkerdilkan definisi aksi alternatif tersebut sekaligus mereduksi pemahaman soal anarkis. Menurut saya, tindakan anarkis haruslah didefinisikan oleh tindakan itu sendiri, bukan oleh klaim dan seperangkat definisi para ahli dan atau lewat standarisasi oleh kalangan anarkis sendiri. Dengan mengidentifikasi kemiripan simptom tertentu, Bima mengkonstruksi pemahaman yang keliru. Jika kita menggunakan analogi penyakit, Bima mengatakan bahwa Yerri sakit muntaber hanya karena Yerri mengalami muntah-muntah. Padahal muntah-muntah tersebut akibat mabuk ciu oplosan di kosan temannya semalam.

Ketika saya berasumsi bahwa kemungkinan aksi Kendeng dapat dianalisis menggunakan kacamata Hardt dan Negri, multitude, seorang kawan (M.S) yang sempat bersama-sama petani Kendeng mengatakan sangat mubazir menggunakan kacamata multitude. Menurutnya walaupun aksi petani Kendeng, dalam penampakannya mengandung karakter yang sama seperti multitide (subjek yang beragam, non hierarkis, partisipatif, non-violence), tujuan utama dari petani Kendeng sangatlah parsial dan umumnya hanya menyoal pada kebijakan tertentu. Dengan menggunakan jargon populer “Alam Adalah Ibu”, isu ini jadi menarik bagi banyak kelompok. Disini letak menariknya, bahwa kampanye tersebut menyediakan medium bagi hasrat tiap-tiap individu untuk mengambil bentuk-bentuk solidaritas yang beragam. Aksi ini adalah medium eskperimentasi yang mesti dihargai.

Saya tidak memandang remeh gerakan petani Kendeng. Ini adalah bukti nyata perlawanan dan kenapa kapitalisme plus negara secara bersama-sama harus dilenyapkan. Perjuangan petani Kendeng mesti mendapatkan dukungan dalam bentuk solidaritas horisontal. Saya memahami anarki(sme) bukanlah sebuah gerakan elitis yang kaku. Gerakannya dapat dilakukan dengan bentuk apapun, selama itu adalah manifestasi perlawanan atas otoritas, perengkuhan kebebasan, dan disaat yang bersamaan sebagai upaya penciptaan asosiasi bebas yang otonom.

Kembali ke kutipan dari teks Bima di atas, saya secara pribadi mengakui adanya hubungan (korelasi) dan pengaruh timbal-balik antar organisme serta organisme dan lingkungannya sebagai suatu kontinum ekosistem. Karena itu tidak hanya primata, tapi kalau bisa dibilang seluruh organisme saling berhungan dan mempengaruhi satu sama lain tidak terkecuali manusia. Namun perlu diingat bahwa segala sesuatu yang berpengaruh pasti memiliki hubungan, namun sesuatu yang memiliki hubungan belum tentu memiliki pengaruh. Hubungan itu dua arah sementara pengaruh itu satu arah. Sepertinya Bima menggunakan kata korelasi tidak untuk menggambarkan derajat hubungan tapi untuk menunjukan derajat similaritas: dua hal yang berbeda namun sering digunakan untuk menjelaskan hal yang sama. Kerena menurut saya apa yang mau disampaikan Bima pada paragraf tersebut adalah: apa yang teramati pada perilaku simpanse, juga merupakan perilaku kita. Tidak hanya naif, ini adalah fatal karena: pertama, Bima menafikan keunikan evolusi yang ada pada masing-masing spesies primata. Kedua, dengan begitu Bima menerima secara mentah-mentah doktrin darwinis sosial yang beranggapan bahwa perilaku spesies hewan dapat dijadikan patokan bahkan diesktrapolasikan pada kehidupan manusia. Ini membuat Bima seperti para darwinis sosial yang akan mengekalkan hierarki, dominasi dan kompetisi sebagai kondisi yang terberi sebagai hasil evolusi.

Sepertinya Bima memang tidak serius dengan penulisan artikel ini. Terlalu banyak generalisasi, misalnya ia menganggap bahwa simpanse, gorila dan orangutan adalah sama. Entah Bima lupa atau memang tidak tahu, bahwa orangutan sendiri terdiri dari dua spesies (saat ini diidentifikasi 3 sub spesies) yang tersebar di 2 pulau yang berbeda (Sumatera dan Kalimantan). Ketiga spesies kera besar yang disebut Bima juga memiliki perilaku dan sistem sosial yang berbeda. Bagaimana mungkin menyamaratakannya? Tapi sepertinya ini adalah konsekuensi dari karakter spekulatifnya. Coba kita lihat bagaimana Bima dengan mudahnya menyimpulkan sesuatu yang sama sekali masih abstrak, dan tanpa penyelidikan:

“Laporan pembunuhan Foudouko juga tidak merinci bagimana perilakunya ketika berkuasa. Tapi ada beberapa hal penting yang dapat kita pelajari: kita tahu bagaimana nasib para tiran. Kemarahan massa adalah teror di atmosfer, dalam rupa badai dan petir di tengah malam. Sehingga tiran tidak akan tidur nyenyak dengan selimut tebal hangatnya, bahkan untuk mantan tiran sekalipun. Terkutuklah Foudouko karena menikmati pemberontakan simpanse muda.”

Penyerangan, perkelahian, bahkan pembunuhan dalam perilaku hewan tergolong dalam perilaku agresi sebagai bentuk aktivitas agonistik. Kalau menggunakan pandangan biologi apa lagi evolusi, ini alamiah. Itu adalah respon yang didorong banyak hal seperti mekanisme pertahanan diri, kompetisi sumberdaya, predasi, perilaku parenting, atau reproduksi. Tidak ada faktor tunggal yang mendorong agresi. Agresi bahkan disebut sebagai salah satu mekanisme adaptasi, contohnya induk ayam akan menyerang saat merasa anak-anaknya dalam bahaya, atau gorila akan menyeringai dan menepuk-nepuk dada saat merasa terancam.

Selain faktor eksternal seperti disebutkan di atas, perilaku agresi dapat disebabkan oleh faktor internal seperti pengaruh hormonal dan aktivitas otak. Dalam penelusuran lebih lanjut tentang agresi ditemukan bahwa ada beberapa hal yang mendorong agresi yaitu dorongan psikologi dan proses belajar (kongnitif). Bukti-bukti arkeologis menyebutkan bahwa perang sebagai bentuk agresi terhitung baru dalam sejarah umat manusia. Perang berkaitan dengan munculnya peradaban, agrikultur, dan stratafikasi sosial[7]sehingga dapat disimpulkan bahwa perang pada manusia adalah hal yang dipelajari, dan sama sekali bukanlah sesuatu yang alami. Manusia sangatlah kompleks, sekompleks hewan yang lain. Tidaklah berlebihan jika saya mengutip kalimat Konrad Lorenz: “Humans are among the very few mammals who will kill their own kind without the provocation of extreme hunger.” Sampai saat ini, manusia adalah mamalia yang dapat melakukan konflik dan kerjasama diwaktu yang bersamaan.

Sebuah publikasi pada jurnal Nature edisi 538 tanggal 28 September 2016  berjudul The phylogenetic roots of human lethal violence, mencoba mengusulkan pendekatan baru mengenai cara memahami akar kekerasan, agresi dan pembunuhan pada manusia dengan mengkomparasikan ribuan sampel mamalia dan dianalisis menggunakan kedekatan filogenetik. José María Gómez dkk. menemukan bahwa kekerasan dan serangan mematikan terjadi di hampir semua spesies mamalia. Walaupun itu jarang terjadi namun menunjukan kecenderungan meluas, serangan mematikan ini bervariasi antar kelompok mamalia. Data kekerasan dan serangan mematikan pada manusia memang menunjukan kesamaan dengan kelompok kera besar lainnya, namun kekerasan pada manusia meningkat dari masa paleolitik sampai saat ini. Kesimpulannya menarik: semakin manusia terorganisasi maka semakin tinggi tingkat kekerasan. Ini ditunjukan dengan peningkatan kekerasan dari masa band menuju tribe, sampai pada oranisasi masayarakat yang lebih besar. Walaupun pada akhirnya penelitian ini, menyimpulkan bahwa setelah ada negara yang lebih besar dengan institusi hukum dan aturan-aturan yang mengikat, maka kekerasan menurun. Penelitian ini mengabaikan fakta Perang Dunia I dan II, saat perang mencapai puncaknya, atau bagaimana Soeharto, Pol Pot, Idi Amin, dan lainnya melakukan kekerasan dan pembunuhan atas nama stabilitas dan keamanan negara.

Di satu sisi saya sepakat dengan Bima bahwa tiran seharusnya dilawan, bahkan jangan sekalipun memberikan peluang bagi lahirnya tirani. Tapi menganalogikan pembunuhan anggota kelompok oleh sesama simpanse sebagai tindakan pembebasan atas tiran adalah keliru. Saya tidak melihat ada upaya pembebasan dalam kasus pembunuhan simpanse dalam kelompok ini. Fenomena ini lebih pada arah kompetisi atau mungkin mekanisme pertahanan kelompok, dan ini pun belum pasti. Toh, tetap yang diuntungkan dalam kasus ini adalah David dengan menjadi jantan dominan dalam grup. Ia pun suatu saat nanti pasti akan digulingkan seperti pendahulunya. Inilah konsekuensi dari sistem hierarki, saat ranking menjadi faktor penentu terhadap akses sumberdaya.

Memang banyak hal kompleks dari perilaku sosial simpanse yang menjadi perhatian para peneliti. Sampai saat ini, diketahui bahwa simpanse memiliki struktur sosial fission-fusion society sehingga jumlah dan komposisi kelompok sosial berubah sepanjang tahun. Simpanse diketahui juga dapat membangun pertemanan dengan kelompok di luar kelompoknya, serta mampu membangun koalisi “politik” yang berguna sebagai dukungan ketika menghadapi agresi. Hal terakhir tersebut yang menyebabkan peluang menjadi jantan dominan tidak diukur berdasarkan kekuatan fisik, tapi lebih pada kekuatan membangun koalisi. Selain itu simpanse juga membangun hubungan berdasarkan kekerabatan nepotistik-toleran, pola ini berarti bahwa betina bersifat filopatri dan terdapat kerjasama antar kerabat dalam kompetisi. Seharusnya ini dipertimbangkan Bima sebelum sampai pada kesimpulan dan klaim. Implikasi dari analogi yang ditawarkan Bima akan berujung pada perjuangan oposisi, yang cita-citanya adalah reformasi bukan “revolusi”. Mengganti pemimpin lama dengan pemimpin baru, yang tak kalah menindasanya.

Secara metodologi, melihat korelasi aktivitas antar spesies yang berbeda bisa dilakukan. Tidak hanya etologi, cabang ilmu biopsikologi, yang selain fokus pada manusia, juga kerap melakukan komparasi perilaku antar spesies. Kita misalnya bisa melihat bagaimana respon yang ditunjukan owa jawa dan lutung di Gunung Gede Pangrango ketika dihadapkan dengan ancaman yang sama, macan tutul misalnya. Atau, Bima mungkin bisa saja iseng mengkomparasikan bagaimana respon sampel orangutan Sumatera dengan sample sarjana S1 ilmu komunikasi universitas A ketika dihadapkan dengan ancaman yang sama, misalnya harimau. Tapi akan gagal ketika mengkomparasikan bagaimana respon sampel orangutan Sumatera dengan sampel sarjana S1 komunikasi universitas A ketika menghadiri konser Raisa[8]. Hal ini sedari awal rumit karena apa yang mau kita amati secara kategorial berbeda.

Kompleksitas otak dan aktivitas sosial manusia mungkin bisa dikomparasikan dengan kelompok primata yang lain. Tapi mengekstrapolasikan misalnya perilaku sosial hewan terhadap perilaku sosial manusia adalah upaya sangat kurang kerjaan. Pada persoalan seks misalnya, hampir seluruh spesies mamalia melakukan aktivitas seksual hanya untuk kebutuhan reproduksi[9], karenannya kita mengenal musim kawin yang ditandai dengan meningkatnya hormon-hormon tertentu, semisal feromon. Hal ini berbeda dengan manusia yang memaknai aktivitas seksual tidak hanya sebatas aktivitas reproduksi sehingga kita bisa “kawin” kapan saja. Manusia mempelajari aktivitas hewan sekaligus mempengaruhinya, demikian pula sebaliknya. Beberapa keunikan hewan diadopsi dan dikembangkan oleh manusia seperti sistem aerodinamis kelompok aves yang diterapkan dalam sistem pesawat terbang. Swarm intelligence, sebuah taktik yang populer dari kelompok-kelompok anti-otoritarian, merupakan hal yang dipelajari dari aktivitas kawanan burung dan serangga. Mutual aid Kropotkin ditegaskan atas pengamatannya pada beberapa kelompok hewan. Penggunaan kamuflase dan mimikri oleh masyarakat pedalaman merupakan hasil modifikasi dari perilaku dan ciri fisik hewan. Karenannya overgerenalisasi dan simplifikasi evolusi seperti yang Bima lakukan persis seperti apa yang kaum darwinis sosial selalu bicarakan.

Walaupun Bima lewat tulisannya menyadari bahwa manusia tidaklah luput dari proses evolusi, tapi adalah keliru jika memahami bahwa relasi manusia dengan alam adalah searah atau alam dengan begitu mendeterminasi manusia dan segala produk kebudayaannya. Perlu  diingat bahwa manusia memiliki kapasitas untuk mempengaruhi alam, memodifikasi bahkan merubahnya. Bahkan beberapa spesies hewan proses evolusinya sangat dipengaruhi oleh manusia, sebut saja ngengat Biston betularia yang umum dijadikan bukti seleksi alam. Dalam ekologi sendiri dikenal ekosistem alamiah dan ekosistem buatan yang merupakan kondisi ekosistem yang dipengaruhi oleh manusia, misalnya persawahan, perkebunan, dll[10]. Maka sebagai spesies yang terbilang muda,homo sapiens adalah satu-satunya spesies telah merubah wajah bumi lewat aktivitasnya: agrikultur, industri, dll, dengan waktu yang relatif sangat singkat.

Kausalitas  dan Determinisme

“Oh, you. You just couldn’t let me go, could you? This is what happens when an unstoppable force meets an immovable object…… I think you and I are destined to do this forever.”

(Joker – The Dark Knight)

 Sebenarnya sejak Bima memulai analisinya menggunakan evolusi Darwin dan melakukan reduksi yang berlebihan, lewat penalaran induksi yang fokus pada satu fenomena, kesimpulannya sangat terperdiksi: kausalitas dan determinisme. Coba lihat apa yang Bima katakan:

“Persaingan terhadap sumber daya mengajarkan kita rasanya penindasan dan eksploitasi secara ekonomi-politik. Ketika gudang makanan yang dimiliki oleh segelintir orang dan dipagari dengan tembok tinggi, sedangkan di luar tembok itu orang-orang mati kelaparan, kita merasakan ketidakadilan. Ketika lahan yang kita tanami dirampas sehingga kita tidak menikmati apa yang seharusnya kita tuai, kita merasakan penindasan.”

 Selanjutnya ia meneruskan:

“Anarkisme lahir dari sini: penindasan dan ketidakadilan. Ia lahir dari cakrawala sosial dan tidak bisa dibayangkan oleh sebagian orang dengan pemikiran yang mapan. Jika evolusi pemikiran menghasilkan spesies ide baru, maka anarkisme muncul karena seleksi alam seperti Darwin bilang”

 Berdasarkan kutipan di atas maka dapat dikalimatkan bahwa dengan adanya persaingan sumber daya, lahirlah penindasan dan eksploitasi dengan demikian juga menyebabkan ketidakadilan–dari proses ini kemudian lahirlah anarkisme. Bima menegaskan bahwa anarkisme adalah “spesies ide baru” hasil dari proses “evolusi pemikiran” melalui mekanisme seleksi alam.

Hal ini tampak masuk akal, sangat historis tapi tunggu dulu. Evolusi pemikiran? Spesies ide baru? Apakah Bima paham antara perbedaan ontologi dan epistemologi? Jelas ini adalah racun Cartesian yang umum pada borjuis mahasiswa. Walau bicara mengenai perubahan kuantitas dan kualitas, evolusi mensyaratkan hakikat ontologis. Bahkan psikologi evolusioner dan kognitif evolusioner sama-sama menekankan bahwa perkembangan otak mendahului perkembangan pemikiran dan psikologi. Sekalipun social brain hypothesis yang melihat perkembangan otak terbentuk tidak semata-mata akibat faktor ekologis namun akibat kompleksitas grup sosial, menekankan pada perkembangan kapasitas otak. Saya benar-benar bingung dengan istilah “spesies ide baru”, apakah Bima benar-benar paham soal konsep spesies? Saya curiga, jangan-jangan Bima sependapat bahwa “revolusi mental” dapat dilakukan.

Masuk pada alur kausalitas Bima, menurut saya ini adalah kekeliruan post hoc propter hoc, yang menyatakan bahwa “ini” terjadi sesudah “itu” terjadi maka “ini” merupakan akibat dari “itu”. Kekeliruannya adalah ketika mengakui sesuatu yang terjadi berurutan merupakan akibat dari peristiwa pertama. Apa benar persaingan sumberdaya menjadi satu-satunya penyebab penindasan dan ketidak-adilan? Jika sumberdaya merupakan muasal persaingan maka bagaimana menjelaskan praktik sumberdaya komunal yang sampai saat ini masih bisa ditemukan, bahkan di Indonesia? Atau bagaimana menjelaskan hubungan mutualisme, eusociality[11] dan perilaku altruistik? Jika kita membenarkan pernyataan Bima di atas, maka kita mengabaikan kondisi-kondisi lainnya atau dengan begitu kita menegaskan bahwa persaingan sumberdaya adalah causa prima untuk kondisi yang sangat menjengkelkan hari ini. Implikasi terburuk dari paragraf pertama di atas adalah dengan begitu kita akan bersepakat dengan Hobbes, bahwa kita memang memerlukan negara karena manusia sejak awal adalah serigala bagi manusia lain.

Penelitian paleontologi dan antropologi menyebutkan bahwa sebaran manusia cenderung mengikuti sumberdaya. Persaingan umum terjadi, tapi banyak juga yang kemudian melakukan pemanfaatan secara komunal, ada kerjasama dan mutualisme. Tidak hanya dalam biologi, dalam ekologi dan antropologi bahkan menyebutkan bahwa persaingan bukanlah satu-satunya pendorong keberhasilan evolusi. Mungkin sejarah manor & enclosure di Inggris dapat memberikan gambaran bagi kita bagaimana sumber daya didistribusikan dan dibatasi, dan bagaimana hal tersebut dianggap sebagai proses kelahiran kapitalisme modern. Atau accumulation by dispossession Harvey dapat membantu Bima melihat bagaimana akumulasi kapital terjadi pada ruang dan waktu.

Lagipula, saya membedakan persaingan (competition) dan perampasan (grabbing, dispossession, deprivation). Persaingan mensyaratkan dua inividu atau kelompok dalam akses satu sumberdaya dalam pemenuhan kebutuhan, sementara perampasan adalah aksi sepihak satu individu atau kelompok dalam merebut suatu sumberdaya, perampasan tidak mesti mensyaratkan adanya persaingan terlebih dahulu. Misalnya, hutan yang dimaknai sebagai “ibu” oleh masyarakat Papua, tiba-tiba dirampas oleh perkebunan sawit yang memaknai hutan sebagai “kapital”. Dengan begitu konflik di Papua bukan soal persaingan masyarakat Papua dan perkebunan sawit, tapi adanya perampasan lahan hutan. Dan benar, ini adalah perang sumberdaya antara masyarakat melawan perusahaan yang di backup negara. Saya tidak melihat adanya persaingan di sana, saya melihat ada perampasan dan ada perlawanan.

Saya memahami bahwa konflik sumberdaya yang dijelaskan Bima bisa digunakan untuk menjelaskan persoalan di pegunungan Kendeng, Papua, dan hampir semua tempat di Indonesia, yang sementara melakukan perlawanan atas perampasan ruang hidup. Namun hal ini agaknya kurang cukup untuk menjelaskan karakter kapitalisme postfordisme hari ini, saat sumberdaya diproduksi dan direproduksi oleh kapitalisme sendiri (komodifikasi) sementara persaingan dan “hasrat konsumsi” sebagai motor penggeraknya. Atau bagaimana menemukan titik serang pada negara yang selalu menampilkan diri sebagai pelindung. Penjelasan persaingan sumberdaya yang disebutkan Bima juga nampaknya akan sulit digunakan untuk menjelaskan soal biopower. Jujur, membaca teks Bima seperti membaca selebaran kaum anarkis atau para Diggers pada abad ke 17.

Selanjutnya jika persaingan sumberdaya yang Bima maksud kita tarik kedalam term ekonomi, maka implikasi berikutnya adalah, Bima sama seperti marxis yang mengangap bahwa ekonomi adalah basis yang mendeterminasi suprastruktur. Dengan begitu semuanya tunduk pada logika ekonomi (corak produksi, relasi produksi, dll), begitu juga dengan politik, budaya, bahkan negara sebagai salah satu wujud suprastruktur. Saya curiga jangan-jangan Bima sama seperti Marx yang kemudian memandang negara hanya sebagai representasi kelas yang berkuasa karenanya memiliki karakter represif dan eksploitatif sehingga negara harus direbut dan digunakan sebagai alat revolusi oleh kelas proletar[12] sebagai tahap transisi menuju masyarakat tanpa kelas. Tapi semoga saya salah menginterpretasi “penindasan dan eksploitasi secara ekonomi-politik” yang Bima sampaikan. Atau lebih jauh, semoga saya tidak suudzon dengan menganggap hal ini dapat mengarah pada pemikiran para bigot anarko-kapitalisme yang ingin meniadakan negara demi persaingan bebas dalam ekonomi.

Yang terakhir, jika mengacu pada logika jika-maka Bima di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anarkismenya Bima hanya akan eksis dengan adanya penindasan dan ketidakadilan. Ini adalah penegasan oposisi biner saat yang satu mengandaikan yang lain untuk eksistensinya masing-masing. Sepertinya pandangan Bima sama seperti pemikiran anarkisme klasik Bakunin yang melihat anarkisme sebagai hubungan antagonistik dari otoritas alamiah dan otoritas artifisial. Tepat seperti kata Joker pada Batman untuk menegaskan eksistensinya: “Kau melengkapiku.” Bima terperangkap pada logika biner soal apa yang alamiah dan apa yang tidak, tanpa berusaha mencoba mempertanyakan bagaimana hal tersebut terjadi. Selanjutnya menurut saya yang kontradiktif di sini, jika kita menggunakan logika Bima bahwa anarkisme sebagai sebagai sesuatu yang alamiah lahir dari penindasan dan ketidakadilan, maka dengan begitu kita juga harus mengakui bahwa ketidakadilan dan penindasan sejatinya alamiah sebagai konsekuensi dari persaingan sumberdaya alam yang juga alamiah. Bima mereduksi seleksi alam hanya pada persaingan sumberdaya, hal yang sebenarnya mau ia kritik dalam tulisannya.

Penyakit Idealisme dan Glorifikasi

“I was a teenage anarchist, looking for a revolution. I had the style, I had the ambition. I read all the authors, I knew the right slogans….”

(Against Me! – I Was A Teenage Anarchist)

 Dengan menggunakan teks-teks layaknya jargon, Bima mengglorifikasi anarkisme:

“Namun kita belajar dari sejarah panjang kemanusiaan, menikmati kesengsaraan dan diinjak sepatu tentara, dan pemikiran anarkisme menjadi jawaban atas permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di sekeliling kita. Karena itu kita tidak menentang kehendak alam, anarkisme secara naluri adalah sesuatu yang alamiah. Anarkisme adalah penguatan masyarakat sebagai hasil dari seleksi alam pemikiran sosial.”

 Mau tampak heroik dengan teksnya, Bima malah nampak mesianistik dengan mengatakan bahwa anarkisme adalah satu-satunya jawaban. Bima sepertinya lupa, bahwa yang membuat anarki(sme) tetap hidup adalah karena ia tidak berperan sebagai jawaban namun sebagai pertanyaan. Anarki(sme) tidak berusaha mengoposisikan dirinya dengan negara dan otoritas seperti yang gerakan kiri lakukan. Ia melampaui skema tersebut dengan menciptakan alternatif, anarki(sme) menegasikan hal-hal tersebut.

Sejak kita tahu bahwa negara dan kapitalisme bukanlah sesuatu yang alamiah, karena dapat ditelusuri jejak genealogisnya maka adalah konyol menganggap anarki(sme) sebagai sesuatu yang alamiah. Pun jika kita masuk lewat pengandaian Bima bahwa anarkisme adalah respons alamiah dari penindasan, maka sekali lagi Bima tidak jauh berbeda dengan para marxis lewat gagasan komunisme ala partai pelopor. Para Marxis dan bahkan Marx sendiri memprediksi bahwa jurang keterpisahan antara kelas sosial akan berujung pada kehancuran kapitalisme. Sangat umum dikatakan bahwa masyarakat tertindas akan bangkit dari ketertindasannya, ini alamiah hanya persoalan waktu. Tapi alih-alih berjumpa dengan revolusi proletariat dan kehancuran kapitalisme, ia berjumpa dengan kapitalisme yang menjadi-jadi. Apa masalahnya? Kesadaran. Marx kemudian membagi kesadaran kelas proletariat menjadi dua: class in itself/an sich (kelas pada dirinya sendiri), dan class for itself/für sich (kelas untuk dirinya sendiri). Karena proletar sendiri dengan ketertindasannya dinilai belum sadar maka perlu agen-agen perubahan. Hal yang kemudian oleh Lenin dalam What Is to Be Done? menyebutkan bahwa kesadaran class in itself sebagai kesadaran serikat buruh (trade union conciousness) sebagai dasar partai revolusioner. Selanjutnya kita tahu, ia kemudian menegaskan apa yang sebelumnya sempat Marx sebutkan tentang kediktatoran proletariat, dan kengerian apa yang terjadi setelahnya. Bima nampaknya melakukan penelusuran sejarah dengan karakter deterministik dan mekanik, di mana upaya tersebut mengkonstruksikan alur perkembangan yang progresif dan searah. Premis ini kemudian diletakan sebagai dasar prediksi masa depan yang cerah di bawah anarkisme. Saya jadi ingat kalimat aktivis kiri organ ekstra: “toh kapitalisme akan runtuh akibat kontradiksi internalnya, krisis over produksi akan meruntuhkan kapitalisme dengan sendirinya, kita cuma butuh kesabaran.”

Menurut saya, anarki(sme) dapat dipahami sebagai ide dan praktek. Walaupun anarki(sme) menentang dogma dan doktrin absolut, sebagai ide, anarki(sme) tetaplah merupakan produk pemikiran sehingga kemudian haruslah dibenturkan dengan kenyataan lewat praktek dan eksperimentasi[13]. Hal ini berbeda dengan anarki, yang merupakan kondisi tanpa kekhususan yang ideal, anarki adalahbig bang itu sendiri. Di sini saya memilih menggunakan kalimat Hakim Bey untuk menjelaskannya: “Anarchism ultimately implies anarchy — & anarchy is chaos. Chaos is the principle of continual creation…& Chaos never died.” Chaos bukanlah kekacauan (disorder), antitesis dari keteraturan (order), sama seperti membedakan egoism dan selfishness. Chaos adalah sebuah situasi dan kondisi ketidakteraturan yang indah. Jika kalian ingin bukti, coba pandangi bintang-bintang, atau jalan-jalanlah ke hutan apakah kalian melihat ketidak-teraturan atau malah keindahan?

Yang saya mau sampaikan yaitu anarki(sme) tidaklah tunggal. Ia memiliki banyak varian, yang menyatukannya adalah anarki itu sendiri. Bahkan dikalangan anarkis, banyak yang tidak mau melekatkan diri dengan anarki(sme). Oleh karena itu dengan memahaminya, tanpa ada upaya glorifikasi bahkan fetisisme, saya yakin anarki(sme) bukanlah sebuah jawaban tapi seperangkat pertanyaan. Sering kita mendengar penyataan bahwa otoritas berupa negara, insitusi dan lainnya ditentang lantaran memiliki karakter penindasan, ekspliotatif dan hierarkis. Hal-hal tersebut inheren dalam negara, sehinga dapat diparafrasekan “bukan negara namanya kalau tidak ada karakter penindasan dan ekspoitatif”. Atau untuk lebih mudah, “Coba sebutkan satu saja negara di dunia yang tidak memiliki karakter penindasan, eksploitatif dan hierarkis? Satu saja”. Begitu juga dengan kapitalisme. Tapi ini pun menyimpan bahaya. Sama seperti angsa hitamnya Popper, bahwa misalnya dengan populisme negara berhasil mengaburkan penindasan dengan dalil kesukarelaan dari masyarakat. Apakah dengan begitu anarki(sme) akan berhenti menolak negara dan kapitalisme? Atau tarulah misalnya tatanan anarkis telah tercipta, apakah para anarkis akan duduk santai dan menghabiskan waktu dengan bernyanyi dengan gembira? Saya pikir tidak.[14]

Anarki(sme) tidak hanya mempertanyakan legitimasi kekuasaan, hierarki, dominasi, kapitalisme, dll. Anarki(sme) juga tidak hanya mempermasalahkan bagaimana justifikasinya. Menurut saya, anarki(sme) menentang baik otoritas yang vertikal maupun horisontal, seperti kata Enzo Martucci: “Anarchists are opposed to authority both from below and from above. They do not demand power for the masses, but seek to destroy all power and to decompose these masses into individuals who are masters of their own lives”. Karenanya, tidak hanya negara, anarki(sme) menentang segala wujud dominasi dan otoritas. Hal ini tidak dilandasi oleh semangat ressentiment[15], melainkan pengakuan atas kelemahan serta kekuatan masing-masing individu sehingga tiap individu dapat merayakan kebebasan hasratnya dalam upaya menciptakan ketidakmungkinan yang melampaui baik yang alamiah dan yang tidak. Dengan begini maka asosiasi bebas dapat terjadi. Penggunaan kata “penguatan masyarakat” oleh Bima, seperti saya sebutkan di atas, adalah ciri Marxis-Leninis yang mengandaikan kepeloporan dan agensi disatu sisi dan di sisi lain meniadakan otonomi individu.

Saya tidak mempermasalahkan jika Bima adalah seorang darwinis atau tidak, itu tidak penting bagi saya. Toh itu pilihannya sebagai individu. Malahan dengan begitu ia mempertegas demarkasi antara mana kawan dan mana lawan. Seperti kata Wayne Price: “Kaum anarkis memiliki relasi berbeda-beda dengan teoritisi mereka. Tidak seperti marxisme dan leninisme, kata anarkisme tidak diambil dari figur historisnya. Anarkisme tidak memiliki tulisan sakral yang dapat dibandingkan dengan Kapital atau Negara dan Revolusi. Anarkisme tidak memiliki masalah dalam menolak error dari pendirinya.” Atau meminjam kalimat Malatesta: “Aku menyatakan melawan dogmatisme, karena meskipun diriku tetap kukuh dan yakin terhadap apa yang aku mau, aku selalu meragukan apa yang aku tahu.”

Inilah mengapa kita tidak bisa menemukan ketunggalan dalam gerakan anarki(sme). Anarkis-primitivis dengan menarik mundur penyebab kehancuran manusia dan bumi sampai pada awal mula peradaban, beranggapan bahwa kehidupan “primitif” jauh lebih baik dari kehidupan modern. Dengan merujuk pada temuan-temuan arkeologis dan studi pada masyarakat tribal yang sampai saat ini masih bisa ditemukan, anarkis-primitivis memulai proyek-proyek “hidup harmoni dengan alam” sekaligus aksi langsung. Adaanarkis-hijau yang fokus pada gerakan lingkungan dan ekologis. Tapi jangan lupa ada juga anarkis anti peradaban nonprimitivis yang beranggapan bahwa muasal kehancuran manusia dan bumi adalah peradaban itu sendiri. Tidak sejak ditemukan teknologi pertanian dan industri, tapi sejak ditemukan api dan bahasa. Dan beranggapan bahwa yang diusulkan primitivis adalah utopia, sejak kita tahu bahwa kita tidak bisa kembali ke masa berburu dan meramu. Hal ini tentu akan kontras dengan anarkis-komunis, sindikalisatau libertariansosialis, individualis, dan lain sebagainya. Namun kalau pun ada cita-cita, saya pikir muaranya sama: ketiadaan otoritas, ketidaan kapitalisme, ketiadaan hierarki. Yang ada hanyalah kebebasan dan asosiasi bebas yang otonom. Tapi apakah cuma sampai disitu? Masing-masing saya pikir tidak punya jawaban pasti. Itulah alasan mengapa sampai hari ini anarkis terus bereksperimentasi, bukan untuk masa depan tapi untuk hari ini.

Dalam paragraf penutup Bima mengatakan:

”Simpanse juga merasakan bahwa ketika ada semangat penindasan yang hendak dikembalikan Foudouko. Sekelompok simpanse muda menolaknya. Adalah insting alamiah untuk menolak penindasan, untuk menghirup udara pembebasan. Jika simpanse saja mampu meredamnya, kenapa sebagian besar dari kita, Homo Sapiens yang mengaku lebih baik ketimbang simpanse, justru pasrah? Ini tidak alamiah”

Kutipan di atas seperti pernyataan “Kok anjing saja bisa menunggu dengan setia sementara manusia yang berpendidikan tidak?” Sebagai analogi satire ini ampuh, tapi sebagai pernyaataan ilmiah ini dungu. Jelas ini adalah kesalahan kategoris. Dari mana Bima tahu ada konsep penindasan pada kelompok simpanse? Kalau pun ada, apakah sama seperti konsep penindasan pada manusia? Ini adalah argumentum ad ignorantiam yang umum pada semangat aktivisme. Sejak awal, Bima telah mengatakan bahwa simpanse adalah kelompok yang hierarkial. Walaupun absen menjelaskan konsep hierarki pada simpanse, jelas sekali bahwa seperti saya katakan di atas, yang paling diuntungkan dengan terbunuhnya Foudoku adalah David sebagai alpha male. Ini jelas berhubungan dengan dominasi, walupun mungkin terdapat berbagai faktor, tapi saya ragu kalau berkaitan dengan penindasan. Mungkin lebih baik jika Bima mengambil analogi tentang bagaimana kelompok banteng menyerang kawanan singa untuk menyelamatkan salah satu anak banteng yang menjadi buruan singa tersebut[16]. Ini menarik ketika banteng sebagai “mangsa” bersatu melawan balik “pemangsa”. Kalau Bima mau tampak lebih heroik mungkin ini lebih tepat, selain menunjukan bagaimana mekanisme pertahanan kelompok, penyerangan banteng terhadap kawanan singa ini adalah contoh pelampauan dari konsep yang alamiah dan yang tidak.

Inkonsistensi dalam teks Bima, memang minta ampun. Di satu sisi ia berusaha menarik kesamaan antara aktivitas sosial simpanse dan manusia, disisi lain ia menunjukan perbedaan yang tajam. Lihat kalimat Bima selanjutnya: “Hal ini tidak bisa dirasakan simpanse berhubung interaksi sosial mereka masih sangat sederhana, mereka bahkan tidak masuk dalam zaman feodal”. Saya hanya bisa mengerutkan dahi. Seperti yang saya tekankan di atas, manusia sebagai bagian dari spesies organisme, pasti memiliki kompleksitas yang unik sama seperti spesies lainnya. Sebagai pengusung gagasan Bookchin seharusnya Bima paham bahwa om Bookchin sendiri berpendapat: Complexity and subjectivity are more than the effects of life; they are its integral attributes[17]. Tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Dengan menggolongkan spesies yang berbeda dalam satu kategori tunggal, ini adalah pengingkaran atas keunikan masing-masing spesies. Seperti analogi yang diberikan Einstein, tidak mungkin menilai kemampuan seekor ikan dengan membuatnya memanjat pohon.

Kalaupun ada hal yang perlu kita petik dari evolusi, itu adalah ragam keunikan yang tercipta darinya. Keseragaman bukanlah hasil seleksi alam, melainkan hasil dari seleksi buatan; mulai dari keseragaman padi, keseragaman ayam daging sampai keseragaman hasrat manusia. Bima nampaknya selalu terjebak pada alamiah dan tidak alamiah, dan ini membuatnya kurang berimajinasi. Lagipula apa yang alamiah dari pemberontakan Icarus, Prometheus dan Sisyphus? Toh mereka tetap berontak, bahkan terhadap para dewa sekalipun. Saya yakin berbeda dengan Bima yang butuh contoh-contoh dan analogi agar dapat membangun “kesadaran”, para insurgen di kota Exarcheia, kombatan di Papua, petani di Kendeng, nelayan di Teluk Manado, Masyarakat Kulonprogo, Sunda Wiwitan, dan di berbagai penjuru bumi lainnya menjadikan aksi mereka sebagai pijakan untuk membangun analoginya sendiri.

 

Catatan akhir

[1] Anarki(sme) [“sme” dalam kurung] saya gunakan untuk membedakan dengan “anarkisme” [tanpa dalam kurung] yang digunakan Bima. Selain itu, hal ini untuk menegaskan ragam bentuk dari “isme” yang dipadankan terhadap anarki. Namun saya tetap menggunakan “anarkis” sebagai identifikasi terhadap individu atau kelompok yang berasosiasi dengan berbagai tendensi ide dan praktek anarki(sme), sama seperti kalimat pertama dalam pernyataan editorial anarkis.org; “Dalam heterogenitas tendensi dalam anarkisme yang ada…”

[2] Tulisan ini merupakan tanggapan atas artikel Bima Satria Putra berjudul Primata, Hierarki, Revolusi. Lihat:http://anarkis.org/primata-hierarki-revolusi/

[3] Ini adalah pandangan umum antroposentris; non human primate dianggap memiliki proto-perilaku manusia. Kalau menurut saya, manusia dan semua spesies secara khusus primata memiliki keunikannya masing-masing dan pada saat tertentu sama-sama berbagi kemiripan perilaku.

[4] Penelitian ini jelas penelitian etologi komparatif terlihat dari semua anggota penelitinya:  4, dari 6 anggota peneliti adalah antropolog, sementara 1 orang primatolog, dan 1 orang lagi biolog evolusioner.

[5] Situs ini merupakan rujukan artikel Bima. http://www.sciencealert.com/in-a-rare-group-killing-chimpanzees-abused-and-cannibalised-their-former-tyrant-s-corpse

[6] http://anarkis.org/aksi-petani-kendeng-yang-anarkis/

[7] John Zersan juga membahas ini dalam artikelnya: Agriculture. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul:Agrikultur: Mesin Jahanam Peradaban.

[8] Sebenarnya banyak penelitian bahkan eksperimentasi terhadap monyet, kera dan manusia dilakukan sejak tahun 30-an sampai menjelang akhir tahun 70-an yang berkaitan dengan psikologi melalui serangkaian manipulasi. Eksperimentasi-eksperimentasi yang dilakukan pada manusia akhirnya ditentang karena alasan etis. Beberapa eskperimentasi yang terkenal antara lain: eksperimen Milgram, eksperimen Penjara Stanford, eksperimen “lubang keputusasaan” Harlow dan eksperimen konformitas Asch.

[9] Sampai saat ini selain manusia,  baru bonobo (Pan paniscus) yang teridentifikasi “menikmati” aktivitas sexual, bahkan bonobo satu-satunya spesies non human primates yang melakukan oral seks dan memiliki variasi posisi dalam aktivitas seksual. Sama seperti manusia, bonobo memaknai aktivitas seksual tidak hanya aktivitas reproduksi.

[10] Walaupun secara pribadi saya menganggap bahwa sepertinya aggak sulit untuk menunjukan kodisi “alamiah” sejak aktivitas manusia telah mempengaruhi seluruh ekosistem. Pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi sangat signifikan sejak revolusi industri, terbukti berpengaruh pada semua organisme yang ada, dari organisme non seluler sampai organisme seluler (uniseluler dan multiseluler).

[11] Ini berbeda dengan term yang diusulkan oleh Edward O. Wilson, yang walau mengakui bahwa eusociality juga terdapat pada manusia (tidak hanya pada tawon misalnya) namun mendasarkannya pada teori W. D. Hamilton: Inclusive fitness dan memandang bahwa eusociality sebagai konsekuensi dari masyarakat yang terstratafikasi dalam kasta sosial dan terdapat pembagian kerja. Ini juga berkaitan dengan perilaku altruistik, yang diklaim oleh Dawkins yang hanya merupakan konsekuensi dari kin selection dan group selection. Eusociality di sini adalah perilaku cooperativ brood, saat terdapat kerja sama dalam mengasuh dan membesarkan anak.

[12] Marx dan Engels membicarakan ini dalam Manifesto Partai Komunis, bahkan dalam the Critique of the Gotha Programme, Marx membicarakan negara sebagai bentuk kediktatoran proletariat dalam periode transisi dari kapitalisme menuju komunisme. Lenin juga membicarakan ini dalam State and Revolution. Lebih lanjut silahkan baca soal teori negara instrumentalis.

[13] Bahkan pada beberapa kalangan anarkis, tindakanlah yang nanti menentukan ide dan teori. Seperti kalimat Mustapha Khayati (situationist international) dalam pamflet berjudul Tentang Kemiskinan Hidup Mahasiswa: “Tidak cukup bagi teori untuk mencari realisasinya dalam praktik; praktik harus mencari teorinya sendiri”.

[14] Ted Kaczynski dalam artikel singkatnya berjudul: When Non-Violence is Suicide, mengandaikan bahwa sekalipun kondisi masyarakat anarkis telah tercipta, non-violence adalah tindakan bunuh diri, olehnya dia mengusulkan: Being armed and prepared to fight in self defense will not only be a necessary condition for your own survival, it will be your duty.

[15] Lebih lanjut dapat ditemukan dalam teks-teks Nietzsche, Stirner dan Saul Newman.

[16] Lihat dalam: https://www.theguardian.com/environment/2008/may/18/conservation.

[17] Murray Bookchin. 1993. Sociobiology or Social Ecology.