All posts by Nimastu

Solidaritas Untuk Kawan-kawan Yogyakarta! (AUSTRALIA)

Solidarity with Anarchists in Yogyakarta, Indonesia from Narrm / Melbourne ( so-called Australia ) Anarchists.

Banner reads ‘Solidarity with Yogja Comrades
May Day Setiap Hari ( May Day Every Day )’

On May Day in Yogyakarta 69 comrades were arrested. There has since been a huge crackdown involving raids and more arrests based on flimsy evidence. At present there are 11 comrades still locked up in Yogyakarta Police Prison, they are isolated and not allowed any contact with comrades outside.

This has only strengthened the resolve of the comrades to keep up the fight against the feudal system ruling Yogja and the Kraton (palace) of the so called sultan.

There is a fundraising drive to raise money for legal assistance which has been largely local however there is a paypal account here for donations outside Indonsia. https://www.paypal.me/TobiVBonano

Mengusik Apa Yang Tidak Terusik: Introduksi mengenai Sanggama antara Feodalisme dan Seni di Jogjakarta

Tulisan ini ditulis pada 2008 dan dimuat di Jurnal Amorfati edisi 3

 

Kasus petani Kulon Progo (Paguyuban Petani Lahan Pasir) melawan perusahaan tambang besi Jogjakarta Magasa Iron, yang mana salah satu pemiliknya adalah GKR Pembayun (Putri Sultan), jelas merupakan kasus yang memiliki implikasi feodalisme yang kuat. Betapa tidak, secara legalitas, petani memiliki hampir semua prasyarat untuk mengklaim bahwa mereka berhak berada, bercocok tanam, dan tinggal di tanah tersebut. Satu-satunya faktor yang menghalangi hanyalah kekuatan modal dan klaim feodal atas tanah-tanah yang konon milik Paku Alaman. Menanggapi kasus ini, saya menjadi teringat pengalaman sewaktu bekerja di salah satu instansi yang diwewenangi oleh Sultan, Jogja National Museum. Di tempat tersebut banyak bernaung seniman-seniman lokal, beberapa di antaranya telah kukenal. Museum tersebut pun khusyuk dengan even-even untuk menyemarakkan dan merayakan komodifikasi seni sebagai komoditas yang menjanjikan di pasar. Meski singkat berada di tempat itu, aku cukup sadar akan infiltrasi terang-terangan atas “komunitas seni” Jogjakarta oleh Sultan. Kepala yayasan institusi tersebut merupakan menantu dari Sultan, suami dari Pembayun, yang notabene adalah majikanku sewaktu bekerja di sana. Hiruk-pikuk dunia seni memang tidak pernah aku pahami. Di antara tiap Red Wine yang tertuang di tiap gelas sang seniman, kolektor, dan kurator, aku merasakan kejijikan. Entah kenapa. Barangkali sentimen kelas. Atau mungkin karena aku tidak merasa menjadi bagian dari “kelas kreatif ” semacam seniman. Diriku merasa kerdil di antara golongan kelas yang lebih “superior” dari diriku. Sementara itu, di tempat kerja tersebut aku senantiasa berhadapan dengan para teknisi, satpam, dan pekerja lapangan lainnya dengan keluh-kesah mereka. Sementara para seniman berpesta, merayakan, dan mengglorifikasikan komodifikasi seni. Aku merasakan kejanggalan ketika mengingat fakta bahwa gedung yang sekarang dijadikan ruang seni mahabesar tersebut dulunya adalah squat. Squat merupakan istilah gedung kosong yang ditempati secara ilegal oleh para aktivis prodem dan “anarkis”. Setahuku, memang banyak anarkis luar negeri yang mondar-mandir di sana ketika tempat itu masih menjadi squat. Seorang kawan, bertahun-tahun lalu, pernah bertandang ke squat itu dan pergi dengan kecewa ketika “sang senior” tempat tersebut tidak menyetujui ia dan pacarnya tidur bersama di satu ruangan. Suatu moralitas aneh bagi tempat yang sering dinaungi oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai anarkis atau label-label radikal lainnya. Squat tersebut bubar setelah beberapa kali direpresi hebat dan pada akhirnya gedung tersebut diambilalih oleh Sultan.

 

Baru sekitar dua bulan bekerja aku segera keluar. Lantaran tidak tahan dengan dunia kerja. Kemonotonan hari kerja. Ditambah dengan satu pernyataan yang membuatku benarbenar gusar, “Besok, bilang ke panitia Biennale, waktu menyambut Sultan, jangan bilang Gubernur Jogja, tapi Raja Jogja….” Tapi aku tidak serta-merta marah. Barangkali residu patuh selama dua bulan karena menjual harga diriku sebagai pekerja membuatku menjadi seperti itu. Aku masih butuh sekitar 15 menit sambil menuruni tangga tatkala aku mulai merefleksikan kata-katanya dan semua yang aku alami selama bekerja di situ. Tanpa berpikir panjang— meski hari itu ada beberapa acara yang masih harus diatur—aku langsung menuju garasi, menjemput motor, dan tancap gas dengan senyuman lebar. Selang setahun, ketika gejolak petani Kulon Progo makin kuat dalam penentangan mereka terhadap tambang besi dan klaim feodal Sultan atas tanah petani, aku sama sekali tak pernah mendengar adanya sikap seniman Jogja tentang masalah ini. Perlu dicatat bahwa ruang seni tersebut dinaungi atau bahkan didominasi oleh para eks-squatternya yang dulu. Sehingga, secara sepintas memang bisa dibenarkan bahwa para seniman tersebut diberikan privilise tertentu. Apakah suatu kebetulan jika mereka memang bungkam. Kulon Progo bukanlah daerah yang kelewat jauh untuk tidak dapat terdengar oleh mereka. Apalagi liputan setiap aksi petani selalu mendapat perhatian besar sehingga tambang harus tertunda. Belum lagi para seniman selatan yang terkenal menghasilkan karya-karya realisme-sosialis dan sering membanggakan label mereka sebagai “seniman kerakyatan”. Aku tidak akan menodai tulisan ini dengan keluhan kaum kiri, “kamu seharusnya lebih prorakyat”. Sama sekali tidak! Aku juga tidak menuntut mereka konsisten dengan aliran seni mereka, lantaran aku juga tidak percaya dengan “seni”}. Petani Kulon Progo layak diberikan solidaritas bukan karena mereka rakyat kecil tapi karena mereka telah menunjukan keberanian dan harga diri mereka secara mengagumkan. Itulah salah satu alasanku kenapa membangun solidaritas, bukan atas dasar rasa kasihan atau filantropi palsu kelas menengah.

Sampai di sini, dimanakah konteks kesadaran kelas dalam kasus ini? Apakah Sultan cukup berhasil melakukan hegemoni secara sosial, kultural, dan politis, bahkan di suatu kalangan kelas yang digolongkan “memiliki kesadaran politis”. Ataukah kesadaran tersebut juga hanya menjadi imaji, sesuatu yang hanya hip dalam lirik lagu dan di atas kanvas. Argumen basi, memang. Tetapi dengan melihatnya begitu dekat, tampaknya memang terlalu vulgar untuk diacuhkan. Seorang kawan yang berasal dari kalangan tersebut, ketika ditanya posisinya mengenai isu tersebut menyatakan ketidakberdayaannya bila harus berhadapan langsung melawan hegemoni feodal Sultan. Feodal namun juga sangat posmodern (bagi mereka yang suka sok-sok menihilkan semuanya!). Haruskah mereka membuat serikat pekerja seni untuk menyatakan aspirasi mereka? Sepertinya tidak. Cukup aneh bagi kalangan seperti itu untuk mengemis hak mereka di mana dunia yang penuh “privilise” berada di sekitar mereka.

Di era Stalinis realisme-sosialis pernah digunakan rezim komunis untuk menindas setiap interpretasi seni yang tidak melayani kepentingan ideologi komunis. Jogja National Museum juga adalah ruang bagi banyak “subkultur anak muda” yang memanfaatkan tempat tersebut sebagai wadah “berkesenian”. Dalam hal ini mereka tidak terlihat melayani sesuatu ideologi apa pun. Ada kebebasan berekspresi dan berkesenian. Paling tidak, itulah yang aku lihat dari wacana yang hendak dikomunikasikan oleh ruang tersebut. Namun relasi hierarkis tidak terusik. Tidak ada vulgaritas melawan kekuasaan nyata yang dominan, selain hanya vulgaritas sanggama antara seni perlawanan dengan kekuasaan. Bayangkan, seorang Johnny Rotten menyanyikan God Save the Quuen di pekarangan Istana Buckhingham dengan dijaga ketat oleh pasukan kerajaan. Ratu Elizabeth menonton dengan senyuman dari balkon. Semuanya sudah difasilitasi, untuk apa berontak? Dengan demikian, seperti halnya tong yang kosong, nihilisme itu seperti nihil yang berarti “kosong atau tidak ada apa-apa”, yang tentunya sangat mudah untuk diisi. Di Jogja National Museum kalian bisa melihat pagelaran seni realisme-sosialis dan “seni untuk seni” campur aduk dalam satu ruang. Ruang tersebut sesungguhnya menghamba pada satu ideologi. Ideologi yang menghendaki petani Kulon Progo hengkang dari tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka. Ideologi yang menghendaki penumpasan alam. Ideologi, yang menghendaki seorang kawan kami berkata, “Wah aku nggak ikut-ikut kalo soal itu.”

 

*Tujuan artikel ini bukanlah untuk “merevitalisasi seni realisme-sosialis” dengan menghimbau para seniman melalui kritik. Akan tetapi, merupakan suatu refleksi, atas bagaimana hegemoni dapat menjadi sesubtil dan bersembunyi di balik “ruang bebas berekspresi” yang pada kenyataannya mengutamakan kebungkaman serta konformisme yang abadi.

 

*Maksudnya, bukanlah kawan kami ini tidak punya inisiatif atau kesadaran politis, atau bahkan keberanian politis. Kenyataannya Kesultanan Jogjakarta sangat mengakomodir setiap potensi seni, budaya, dan intelektualisme yang menjadi daya tarik khusus kota ini. Oleh karena kondisi hegemonik ini, membuat banyak sekali kawan atau bahkan para “akademisi radikal” tidak cukup vokal untuk menyatakan sikap. Dan bagaimana pernyataan di atas juga menyiratkan hegemoni Kesultanan dalam sekali tangkap.

Fumiko Kaneko dan Sepi Sebagai Temannya

Tulisan ini dicuri dari www.melancholiadespair.wordpress.com

Belum lama ini, tayang sebuah film yang disutradarai oleh Lee Joon-Ik, film yang berjudul Anarchist from Colony tersebut sedikitnya berhasil menarik perhatian para penggemar film, terutama para anarkis. Film berdurasi 129 menit yang diangkat dari kisah nyata itu menceritakan perjuangan seorang anarkis bernama Park Yeol dan kawan-kawannya yang berasal dari Korea dan tinggal di Jepang, di masa di mana Korea berada di bawah kendali Jepang. Mereka bersama-sama merencanakan sebuah misi rahasia, tak lain, menerror kekaisan Jepang.

Film tersebut juga dibungkus dengan kisah romansa antara Park dan seorang nihilis asal Jepang yang bernama Fumiko Kaneko. Ketika kekacauan pecah pasca gempa bumi Kantō pada 1 September 1923, terjadi berbagai kasus pembantaian terhadap orang-orang Korea, dan mereka yang dianggap sebagai pemberontak ditangkap. Satu hari setelah gempa bumi hebat tersebut, Park dan kawan-kawannya ditangkap dan di penjara. Kemudian, ketika diinterogasi, Park mengaku kepada pihak keamanan Jepang bahwa ia yang merencanakan semua terror, sehingga kawan-kawannya dibebaskan. Tapi tidak dengan Fumiko. Gadis berusia 26 tahun itu justru mengatakan sebaliknya kepada pihak keamanan, Fumiko mengaku bahwa ia mengetahui dan menyusun rencana terror tersebut bersama Park, pernyataan tersebut membuat Fumiko tidak dibebaskan.

Tapi, tulisan ini bukanlah sebuah review film, bukan juga fokus terhadap keberanian Park Yeol yang individualistik, melainkan tulisan yang akan membuat kita sedikit lebih jauh mengenal Fumiko Kaneko.

Fumiko Kaneko, lahir di Yokohama pada 25 Januari 1903. Ia lahir dari seorang Ayah mantan Polisi alkoholik yang kasar, dan Ibunya adalah seorang buruh. Kedua orang tuanya tidak menikah secara legal, sehingga Fumiko menjadi seorang anak yang tak terdaftar, hal tersebut juga membuat Fumiko “tak pantas” menyandang nama Saeki sebagai nama keturunan Ayahnya, Fumikazu Saeki, sehingga Fumiko diberi nama akhir Kaneko, dari Ibunya, Kikuno Kaneko. Karena status dirinya sebagai anak yang tak terdaftar tersebutlah yang akhirnya membuat Fumiko tidak memiliki akses terhadap pendidikan formal dan seakan-akan dikucilkan oleh masyarakat.

Setelah Ayahnya pergi, Ibunya sempat beberapa kali menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tapi hubungan tersebut tak satu pun ada yang berjalan baik, mereka tetap hidup dalam kemiskinan. Ketika frustasi Ibunya memuncak, ia tak lagi memiliki solusi lain selain berencana menjual Fumiko kepada prostitusi. Tapi rencana itu batal setelah Ibunya mengetahui bahwa Fumiko akan dikirim ke wilayah lain di Jepang.

Masa-masa sulit berlalu, Ibunya menikah lagi dan mengirim Fumiko ke Korea untuk tinggal di Bugang bersama Neneknya. Fumiko cukup senang dengan keputusan tersebut, karena Neneknya berjanji akan mengadopsinya dan memberikan pendidikan yang baik untuknya. Tapi tak banyak yang berubah, ia tak pernah benar-benar diadopsi dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bahkan setelah beberapa tahun, Fumiko cenderung kembali dikucilkan karena ia disebut tidak pantas menyandang nama Iwashita dari Neneknya. Tak hanya itu, Nenek dan Bibinya juga seakan-akan menjadikan Fumiko sebagai pembantu rumah tangga.

Fumiko masih bisa sedikit merasa senang, karena setidaknya ia bisa mengenyam pendidikan formal di Korea. Tapi hidup tak selalu berjalan sesuai apa yang diharapkan. Awalnya, Fumiko dijanjikan untuk mendapat pendidikan yang baik dan layak agar kelak ia bisa masuk perguruan tinggi, tapi kemudian Fumiko hanya diberi kesempatan sekolah hingga ia di bangku Sekolah Menengah Pertama, ia juga dilarang untuk membaca atau mempelajari hal lain yang tak ada hubungannya dengan pelajaran di sekolah. Setelah masa sekolahnya berakhir, Fumiko menghabiskan waktu untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah dan seringkali mendapatkan kekerasan dari Nenek dan Bibinya yang akhirnya membuat ia terkadang berpikir untuk bunuh diri. Pengalamannya di Korea tersebut, tercatat di dalam sebuah memoar yang ia tulis ketika ia di penjara, Fumiko menyebut masa-masa di Korea sebagai salah satu masa tersulit dalam hidupnya.

Fumiko tak pernah benar-benar merasa bahagia di Korea, selain perlakuan kasar dari Nenek dan Bibinya, penderitaan yang dialami Fumiko juga ditambah dengan rasa kesepian karena ia dilarang bergaul (Di sekolah, Fumiko cenderung lebih senang bergaul dengan lelaki, dan Neneknya tak menyukai itu). Jadi, ia menyimpan semua rasa sakit dan penderitaannya sendiri. Ya, hanya ia dan dirinya.

Pada Maret 1919, tepat sebelum Fumiko dikirim kembali ke Jepang, orang Korea mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut kemerdekaan bangsanya. Sedikitnya 2000 orang Korea kehilangan nyawa mereka, dan 20.000 lainnya ditangkap. Akibat perlakuan kasar yang ia terima dari orang tua dan Neneknya, serta pengamatannya terhadap pemerintahan militer Jepang yang keras di Korea, kemudian mengkondisikan Fumiko untuk memberontak dan melawan semua orang dan institusi yang otoriter. Dari kehidupan yang sulit, kesepian, dan kesengsaraan tersebutlah yang membentuk kepribadiannya menjadi kuat yang pada akhirnya ia berbalik melawan semua otoritas dan memeluk filsafat nihilistik dan anarkis dalam kehidupan.

Akhirnya Fumiko kembali ke Jepang, dan pergi ke Tokyo pada tahun 1920 setelah menolak permintaan keluarganya untuk menikah sesuai tradisi. Di Tokyo, ia hidup dan berjuang sendiri, melanjutkan sekolahnya sekaligus bekerja sebagai gadis penjual koran, seperti yang juga ia cantumkan dalam memoarnya, penjual sabun, dan pelayan. Selain nihilisme dan anarkisme yang membentuk pandangan Fumiko terhadap kehidupan, ia juga bisa disebut sebagai feminis, itu terbukti dengan dirinya yang lebih tertarik untuk mempelajari matematika, bahasa Inggris, Cina klasik, dan akhirnya masuk sekolah kedokteran, ia memilih sekolah yang lebih dominan dihadiri oleh lelaki.

Feminismenya terungkap saat ia menyatakan bahwa ia ingin memenangi kompetisi akademis dengan para lelaki. Meskipun pendidikan formalnya tidak jelas, Fumiko memang orang yang cerdas. Ia membaca secara ekstensif dan terinspirari oleh gagasan Bergson, Herbert dan Hegel. Fumiko juga sangat terkesan oleh pemikir nihilis seperti Nietzsche, Stirner dan Artsybashev. Fumiko percaya bahwa menyatakan diri adalah perlawanan politik terbaik, bahwa anarki bisa menjadi individualistik, bahwa masyarakat hanyalah benalu yang menggerogoti di mana selalu yang kuat melahap yang lemah, dan bahwa gerakan politik tidaklah memberikan kelegaan apa pun. “Apakah itu revolusi, jika hanya mengganti satu kekuasaan dengan yang lainnya?” Tulisnya dalam memoarnya.

Satu-satunya tindakan yang layak, Fumiko berpikir, adalah untuk “mempertaruhkan nyawa(nya)” pada pemberontakan melawan otoritas. Di penjara, ia menulis bahwa kematian adalah kebebasan, “jika seseorang memiliki kehendak untuk mati!”

Seperti apa yang sebelumnya ditulis diawal, ketika diinterogasi, Fumiko memberikan pernyataan yang justru seakan-akan bertentangan dengan pernyataan Park, yang membuat Fumiko tak dibebaskan dari penjara. Tapi itulah yang ia mau, ia tetap ceria ketika pertama kali ditahan pada Juli 1925. Bahkan ia masih ceria ketika ia dan Park dituduh melakukan pengkhianatan tinggi dengan rencana merobohkan kekaisaran Jepang, tuduhan tersebut diberikan tanpa bukti yang jelas, dibuat hanya untuk mencari pembenaran atas pembunuhan orang-orang Korea dan menunjukan bahwa orang Korea yang berbahaya adalah mereka yang berada di luar negeri.

Fumiko dan Park menghabiskan masa-masa di penjara dengan berbagai permintaan aneh, seperti kekeuh ingin saling mengirim surat dan di foto menggunakan pakaian tradisional Jepang di ruang interogasi. Fumiko sangat nyaman berada di sisi Park, ia tak lagi merasa kesepian, sehingga ia akan melakukan apa pun agar ia tetap bersama Park. Di masa-masa itu jugalah Fumiko menulis memoarnya dengan pena dan kertas yang ia dapat dengan sedikit memohon kepada pihak keamanan.

Hari demi hari berlalu, dan pada 25 Maret 1926, untuk pertama kalinya, Fumiko semakin dekat dengan apa yang ia sebut kebebasan. Pada hari itu, Fumiko dan Park akhirnya dijatuhi hukuman mati. Walau pun banyak media asing dan pengacara yang membela mereka, mereka tak menginginkan itu, mereka menganggap hukuman mati tersebut sebagai opsi terbaik.

Park memiliki perasaan yang sama, Park ingin tetap bersama dengan Fumiko. Park yang juga kesepian, sakit dan hanya tinggal di rumah kawan-kawannya yang berbeda hampir setiap malam, seperti puisinya yang berjudul “Anjing Liar”, merasakan koneksi yang lain ketika ia mengenal Fumiko. Itulah yang membuat Park, sebelum hukuman mati dilakukan, meminta agar nantinya Fumiko dimakamkan di pemakaman keluarganya di Korea, agar setidaknya, Fumiko merasa memiliki keluarga.

Tapi, 10 hari kemudian, semuanya berubah, hukuman mati dibatalkan untuk menjaga citra kekaisaran Jepang yang terkenal adil dan bijaksana. Dengan berat, Park menerima keputusan itu, tapi Fumiko menolaknya dan berkata “Kau mempermainkan kehidupan orang-orang, membunuh atau membiarkan hidup sesuai keinginanmu sendiri. Apakah aku harus dibuang sesuai dengan keinginanmu juga?”

Keduanya kemudian dikirim ke penjara di Utsunomiya, tapi mereka tak pernah lagi bertemu dan bahkan tak lagi saling mengirim surat. Fumiko kembali ke kesepian yang dulu ia rasakan, ia menjadi pendiam dan selalu menolak untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan di penjara. Tapi sekitar tiga bulan kemudian, ia meminta agar ia diberi izin untuk bekerja menenun tali seperti tahanan lainnya. Keesokan paginya, pada 23 Juli 1926, ia ditemukan telah menggantung dirinya dengan tali yang telah ditenunnya. Walau ada beberapa hal mencurigakan di kematian Fumiko, para dokter yang melakukan otopsinya merasa tersentuh dan kagum, “tindakan bunuh diri yang direncanakan dengan cermat, dan tenang.”

Park terpukul atas kematian Fumiko, ia juga sedikit merasa kecewa karena Fumiko tak menepati janjinya untuk mati bersama. Park menjalani masa-masa hukuman dengan sulit dan seringkali melakulan mogok makan. Ia kemudian dibebaskan setelah Perang Dunia II berakhir.

Fumiko dan Park ketika di foto menggunakan pakaian tradisional Jepang di ruang interogasi, saat itu juga Park mengajukan pernikahan legal dengan Fumiko.

Hingga kematiannya, kesepian tak pernah benar-benar meninggalkan Fumiko, seakan-akan menjadi teman yang selalu ada di setiap fase kehidupan yang ia jalani. Walau pun sempat mengenal Park dan menemukan sedikit alasan untuk tetap hidup, ternyata kehidupan selalu memberi kejutan yang tak terduga. Harapan-harapan hancur bahkan sebelum rencana selesai dibuat dengan sempurna, itulah yang terjadi kepada Fumiko. Masa kecil penuh kekerasan dan belenggu kemiskinan, masa remaja yang diawasi dan dibatasi, hingga ia dewasa pun ia tak pernah benar-benar memiliki keadilan setelah keinginannya untuk tetap bersama Park hingga mati harus pupus oleh pihak keamanan Jepang yang sewenang-wenang.

Fumiko Kaneko, seorang gadis yang tak membiarkan dirinya mempercayai siapa pun atau apa pun selain ego. Dan sumpah, keinginan, harapan, atau apapun itu, tidak selalu menjadi kenyataan. Mungkin ketika di ruang sidang ia berpikir bahwa Park akan memilih untuk tetap hidup. Mungkin hal itu meyakinkannya tentang apa yang ia curigai selama ini: bahwa hanya ada dirinya sendiri, dan akan selalu sendiri.

Di penjara sebelum Fumiko ditemukan bunuh diri, ia menulis puisi. Salah satunya ditemukan setelah ia mati:

“Ganja kecil itu melilit di jariku. Ketika aku menariknya dengan lembut, itu terdengar agak samar, “Aku ingin hidup,” Berharap untuk tak tertarik keluar, menggali tumitnya sendiri. Aku merasa sedih, sangat sedih. Apakah ini akhir dari perjuangan yang pahit untuk hidup? Aku tertawa terbahak-bahak.” 

Seruan FML untuk Aksi Langsung Kekerasan

Dalam Women’s March 2018 di Salatiga, Federasi Mahasiswa Libertarian (FML) menyerukan digunakannya aksi langsung kekerasan terhadap segala macam bentuk represi seksual di Indonesia. Hal ini merupakan respon atas RKUHP yang dinilai akan merugikan kelompok perempuan dan kelompok gender termarjinalkan lainnya. Selain itu, seruan ini juga merupakan respon atas kebangkitan kelompok ultra-nasionalis dan fundamentalis Islam yang menjadi polisi moral atas segala kegiatan seksual, juga bentuk otonomi dan solidaritas terhadap penanganan kasus-kasus kekerasan seksual di luar campur tangan hukum dan kepolisian. Continue reading Seruan FML untuk Aksi Langsung Kekerasan

UPDATE: Tamansari Clash, One Backhoe Burned

Warga RW 11 Tamansari, Bandung, Jawa Barat, dan solidaritas yang terdiri dari mahasiswa dan komunitas yang masih berjuang mempertahankan rumah terlibat bentrok dengan Kontraktor dan Ormas yang mendukung rumah deret. Peristiwa ini terjadi pada hari Selasa 6 Maret 2018 sekitar apukul 22.00 di daerah sekitar Taman Film. Warga dan solidaritas yang ingin menduduki Backhoe untuk menghentikan proses pembangunan ditahan oleh ormas. Karena kalah jumlah, Ormas mulai melakukan penyerangan kepada warga dan mahasiswa dengan pemukulan dan melempar batu. Puluhan mahasiswa dan warga terluka cukup parah dan harus dilarikan ke rumah sakit Sariningsih. Satu backhoe juga dibakar oleh massa solidaritas anti-penggusuran. Continue reading UPDATE: Tamansari Clash, One Backhoe Burned