Category Archives: General

Dua Publikasi Tentang Anarkisme Belarusia, Ukraina, Russia.

Dua publikasi baru dalam bahasa Inggris. “Pemerintah Rusia, seperti rezim otoriter lainnya, tidak dapat ada tanpa citra musuh, eksternal atau internal. Tetapi orang-orang sejak zaman Soviet telah terbiasa dengan “ancaman Barat” yang abadi dan mata-matanya. Oleh karena itu, masyarakat semakin didorong ke jarum pembantaian brutal “kekuatan musuh publik”. Untuk tujuan ini, topik ekstremisme secara aktif dipromosikan dan “musuh” baru dicap. ”

 

  1. Video Anarkis Militan di Belarusia, Ukraina, dan Russia https://a2day.net/radical-anarchists-in-the-bur-2008-2017/
  2. Network Underground: https://a2day.net/network-underground/

 

AWAS LENINIS!!

Leninisme bukanlah sebuah pengembangan dari ide-ide Karl Marx, melainkan sebuah pendistorsian darinya, dan Stalinisme adalah sebuah parodi menyeluruh atas Marx. Sayangnya kedua partai “komunis” di Indonesia yang mengaku revolusioner dan mengklaim diri mereka sebagai penerus ide-ide Marx justru mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh kedua diktator tersebut. Maka, saat ini seorang Marxis yang baik adalah mereka yang berada di luar partai, sementara yang tertinggal dalam partai hanyalah mereka yang paling idiot.

Semenjak saya menyatakan diri keluar dari PRD dan meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya tidak setuju dengan kitab suci ideologi si botak Lenin, saya tidak tahu lagi apa penyebabnya, tapi setiap saat saya melihat seorang Leninis berjalan ke arah saya—dalam sebuah demonstrasi misalnya—saya selalu waspada, tegang. Jantung saya mulai berdebar-debar, dan secara spontan saya mulai mencari rute kabur serta bersiap-siap membela diri. Dalam hati, bahkan saya mengutuki diri saya sendiri yang membiarkan diri saya terlihat oleh para Leninis tersebut. Apa saya nggak sadar, bahwa hampir dalam setiap demonstrasi kaum Leninis selalu menyusup, berpakaian lusuh, ngantongin handphone dan ngebawa setumpuk kutipan kalimat si gundul Lenin di kepala mereka? Gobloknya saya ini! Sekarang lihat! Si Lenin yang terlahir kembali makin deket, makin deket, dekeeet—dan kemudian—fiuh! Dia terus lewat tanpa ngeliat atau ngeganggu saya, dan saya bisa bernafas lega sekarang…

Bekerjasama Dengan Musuh Memang Mengandung Resiko Dikhianati

Entah kenapa, sudah sejak beberapa bulan terakhir ini, beberapa orang dari PRD—Partai Marxis-Leninis Indonesia—selalu menghubungi saya setelah sekian lama kami tidak saling berkomunikasi. Ya, saya ngerti kok, memang dari dulunya PRD nggak akan pernah mau ngeluangin waktunya buat ngehubungin seseorang, kecuali ada kepentingan terselubung. Ah, cerita lama. Dan ini sudah saya kenali betul. Gimana nggak kenal, dulu kan saya juga pernah bergabung di dalamnya.

Begitulah, mereka sering kontak. Berawal dari yang katanya “Cuma pengen ngobrol-ngobrol”—yayaya, kayaknya semua orang juga tau kalau ada seseorang yang nggak pernah ketemu, mendadak “ingin ngobrol-ngobrol”, pasti ada sebuah niatan tertentu di baliknya—hingga yang secara terang-terangan mengajak untuk membuat semacam aliansi gerakan kota. Ha! Saya memang sudah menduga bahwa mereka memang ada niatan untuk menuju ke arah itu.

Ya sudah, saya tidak terlalu memusingkan hal itu, saya terima aja tawaran mereka dan saya datangi sekretariat—alias kantor partai—mereka. Saya ajak kawan saya yang ternyata mengalami nasib serupa dengan saya—mendadak lumayan sering dikontak. Di sekretariat mereka, telah berkumpul cukup banyak orang saat kami muncul berdua malam itu. Ah, saya sudah mengenal beberapa dari mereka, selain legal PRD, ada beberapa organisasi buruh FNPBI (yayaya, anggota partai Leninis itu jugalah), beberapa dari organisasi buruh lain, aktifis mahasiswa dari beberapa universitas, aktivis muslim konservatif, perwakilan dari PAN (bener, ini yang partai itu juga) dan PKB (sama, partai), serta perwakilan atau ketua serikat tani nasional STN (ehm, another Leninist party member eh?), serta perwakilan dari serikat sopir angkot yang saya lupa namanya. Ehm, ini sih orang-orang lama, dan tentu saja karena lama tak bertemu, kami saling berbasa-basi garing yang sebenarnya nggak perlu tapi harus dilakukan sebagai formalitas.

Akhirnya dibuka juga pertemuan itu. Ternyata pertemuan ini adalah untuk membentuk sebuah front kota—yang katanya front demokratik, tapi saya kira pasti kata demokratik itu hanya embel-embel aja nggak ada bedanya embel-embel dalam kepanjangan PRD: Partai Rakyat Demokratik. Agenda untuk front itu rencananya adalah untuk menghadapi neo-liberalisme—sesuatu hal yang bagi sebagian yang hadir masih dianggap sebagai barang asing di kuping. Dan karena masih asing dengan kata “neo-liberalisme” tersebut, dapat ditebak kan, siapa yang akhirnya mimpin acara pertemuan malam itu? Aha! Siapa lagi kalau bukan si pengundang: PRD!

Karena mereka memimpin pertemuan, dengan segera mereka berbicara terus-terusan dan sampai pada inti pertemuan tersebut yang pasti juga merupakan agenda mereka: mengajukan program-program yang katanya “oh-sangat-revolusioner”. Hahahaaa! Revolusioner? Yayaya, bisa saja, tapi panggil saya Lucky Luke! Semua itu cuma tipu-tipuan!

Bagaimana saya bisa bilang itu revolusioner saat mereka ngoceh terus soal hal-hal yang bagi sebagian peserta lain merupakan sesuatu yang asing di telinga mereka (yang kemudian jelas mereka nggak akan nyanggah, karena memang nggak ngerti) dan sebagian lagi adalah antek-antek PRD yang nyamar jadi buruh dan petani. Jelas nggak akan ada yang nentang atau ngedebat lah! Ini jebakan!

Hmmm, tapi ini juga saatnya kami berdua untuk bicara. Enak aja, mereka kira semua orang tidak mengerti soal neo-liberalisme sehingga akan ngangguk-ngangguk aja ngedenger agenda mereka? Seperti dalam masalah penguatan negara misalnya, mereka mencantumkan hal patriotik tersebut dalam salah satu poin agenda front mereka itu. Kawan saya lalu mendebat poin tersebut karena memang kita nggak setuju.

Dan, tau apa jawabannya? “Sepertinya kita semua jangan dulu membahas terlalu jauh soal tersebut. Kita fokuskan dulu pada rencana pembentukan front kota ini.” Begitu kata si Leninis muda ketua Komite Pimpinan Wilayah itu. Alaaah, bukannya mereka yang duluan membahas mengenai agenda-agenda front padahal front ini aja belum disetujui pembentukannya oleh semua yang hadir, gimana bisa kawan saya itu dibilang “terlalu jauh”, toh dalam materi yang mereka tadi sampaikan, mereka juga sudah memasukkan poin tersebut. Yayaya, cerita lamaaa.

Tebak, apa yang terjadi selanjutnya saat terlihat oleh mereka kami kasak-kusuk tidak puas. Seorang dari mereka mendekati kami dan berbisik: “Sst, soal kayak yang ditanyain tadi itu nanti aja dibahas di Harder, jangan di sini.”Ups, sori sori! Kami tidak menyangka bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti tadi itu akan merusak rencana kalian di PRD, akan membuat orang-orang jadi tidak percaya lagi sama kalian. Sorry sorry, kami kira ini forum yang oh-sangat-demokratik-banget-sekali.

Dan begitulah, hingga akhir pertemuan malam itu, kami masih memberikan beberapa sanggahan lagi yang sepertinya tidak membuat kalian semua senang. Lebih baik kita lampaui saja kisah soal ini karena akan terlalu panjang apabila dimuat di sini semua. Hei! Tapi ada satu lagi cuplikan kisah yang membuat saya terperangah melihat oh-betapa-militannya mereka!

Begini, saat ada keluhan soal kondisi sosial dewasa ini, seorang perwakilan dari sopir angkota berkata: “Semuanya naik, sementara saya musti membiayai keluarga saya. Kalau mogok, saya malah nggak dapet duit. Bingung juga sih sebenernya.” Tau apa tanggapan yang dilontarkan oleh seorang buruh—atau lebih tepatnya seorang PRD yang menyamar menjadi buruh? “Salah sendiri nikah.”

Anjiiiiiiiirrr!!! Orang nikah aja disalahin? Lantas gimana dengan mereka di partai? Pada nggak boleh pacaran yaaa? Karena pacaran berarti ngeganggu jalannya revolusi yaaa? Modar! Kalau keburu mampus nggak akan pernah kalian ngerasain indahnya jatuh cinta. Kok menyedihkan gitu sih idup kalian? Nggak heran partai kalian ini susah berkembang. Gimana mau orang-orang bergabung ke situ saat untuk saling pacaran dan nikah aja sama kalian nggak diakomodir. Eh, atau mungkin aja kalian memang nggak laku-laku ya? Kesian gitu sih . . . Hihihi.

Ya sudahlah, saya lewat aja. Kembali ke pembentukan front itu . . . begitulah, saya tahu bahwa bekerja sama dengan mereka adalah sesuatu yang riskan tapi alasan saya setuju hadir dan terus mengikuti pembentukan front ini adalah bahwa saya memang yakin bahwa perlu ada sebuah front kota atau mungkin sekedar diskusi terbuka soal neo-liberalisme ini karena kita di Indonesia sudah mulai memasuki tahap itu sementara media massa tidak pernah sekalipun membahas masalah tersebut. Tapi tentu saja, tidak juga dengan cara terburu-buru mengajukan program. Ya itulah alasan saya tetap hadir dalam pertemuan tersebut, ya abis, neo-liberalisme memang busuk kok.

Akhirnya, malam itu diambil kesepakatan bersama: tiap minggu diadakan sebuah pertemuan rutin mendiskusikan masalah-masalah neo-liberalisme, perlunya front dan bagaimana langkah-langkah yang akan diambil. Yeah, kami pulang dengan puas . . .

Minggu berikutnya, diskusi memang berlanjut, begitu juga minggu berikutnya lagi. Hingga tiba minggu keempat, seorang Leninis yang jadi pembicara di pertemuan pertama menelfon saya, memberitahukan bahwa pertemuan diundur karena sedang ada rapat intern PRD dan saya akan dikabari lagi bila pertemuan nanti dilaksanakan. Ehm, yayaya, kalian pikir PRD itu paling penting ya? Ini pertemuan kota, an yang hadir bukan anggota PRD semua, jadi kenapa untuk sebuah rapat mendadak PRD, pertemuan harus batal? Kebayang aja ya, kalau masing-masing dari kita ngorbanin pertemuan bersama untuk alasan-alasan pribadi kita yang kita nggak mau sama sekali kompromikan waktunya, pasti nggak akan pernah ada pertemuan kota. Kalau saya misalnya, bilang rapat kota harus diundur karena saya mau latihan band, pasti nggak disetujui padahal latihan band penting bagi saya. Tapi kalau PRD rapat, mereka bebas mengundurkan jadwal rapat kota. Hebatlah. Saya jadi ngerasa sangat tolol dulu pernah percaya sama bualan orang-orang ini dan memutuskan untuk bergabung dengan PRD.

Hingga minggu berikutnya, masih belum ada pertemuan kota itu. Dan secara tak sengaja saya malah ketemu si ketua wilayah PRD itu di sebuah warnet. Saya tanya kenapa kok nggak ada pertemuan lagi. Dia bilang, front gagal kebentuk karena orang-orangnya pada nggak semangat dan mungkin masih terlalu asing denger kata neo-liberalisme, jadi front gagal kebentuk. Oooh, bukankah karena mereka belum mengerti, maka semakin terasa perlu adanya diskusi rutin? Hm, tapi ya sudahlah kalau gagal. Mau gimana lagi?

Tapi mendadak, beberapa minggu kemudian, ada beberapa aksi demonstrasi massa yang diikuti oleh beberapa gabungan organisasi yang dulu sempat hadir dalam pertemuan malam pertama di sekretariat PRD. Terus terang saya merasa aneh, dan kemudian saya membicarakannya dengan kawan saya yang dulu datang bersama saya. Ternyata diapun curiga akan hal tersebut.

Selidik punya selidik, dengan mencari informasi kesana kemari, termasuk mempertanyakannya kepada pihak PRD sendiri, akhirnya kami berdua mengerti: kami dianggap terlalu banyak bertanya sehingga dikhawatirkan akan merusak rencana mereka untuk meraup organisasi lain ke bawah program bendera PRD. Dengan kata lain: kami dipecundangi!

Aaaaaaaaaahhhhhh!!! Demokratik? Modaaaaaaaaaaaaaaaarrrr!!!! Kami ketipu anjiiiiinnnggg!!! Yayaya, kami berdua diam-diam telah ditendang dari sebuah rencana pembentukan front yang oh-demokratik-bangeeeet yang notabene disopiri oleh PRD (atau ditunggangi? Ya, kata ditunggangi kayaknya lebih tepat) karena kami dianggap “berbahaya” hanya karena kami mengutarakan ketidaksetujuan kami atas beberapa program, karena kami memberikan, mengeluarkan pendapat kami, karena kami hanya menjadi diri kami sendiri. Oh great, its so democratic, you know? Apa bedanya mereka sama Suharto dan OrBa-nya yang PRD selalu gencar mati-matian kampanyein penentangan terhadapnya? Sama aja. Untung aja PRD nggak menang Pemilu dan nggak berkuasa. Kalau saja mereka sempat berkuasa . . . amit-amit, pasti ntar ada gulag kayak di Siberia lagi.

Maka kembali saya berhadapan dengan tembok batu yang keras di sebuah negeri dimana segala sesuatunya nggak ada yang beres, dimana segala sesuatunya menjengkelkan. Dari sistemnya hingga partai oposisinya, kamu tidak akan pernah mendapat kesempatan, tak akan ada tempat buatmu apabila kamu berbeda dari mayoritas. Dan ternyata kamu memang beda? Selamat deh, negeri ini tidak mengenal kata “beda”.

Ini Bukan Saatnya Memilih Ideologi, Melainkan Saat Untuk Menghancurkan Semua Ideologi, Kiri Dan Kanan.

Di Indonesia ini, kita seakan nggak dikasih pilihan lain dalam ngelawan sistem ini. Kamu tidak puas? Silakan pilih, mau ideologi Kiri atau Kanan? Kamu nggak akan dianggap kalau kamu nggak milih salah satu dari ideologi itu. Apalagi kalau kamu ngomong soal revolusi, pasti kamu akan dicap Kiri. Yayaya, mungkin kamu memang setuju sama ideologi Kiri itu, tapi terus terang saya bermasalah dengan keberadaan Partai Kiri dan orang-orang Kiri–apalagi para Leninis. Sementara saya juga percaya akan perlunya revolusi–sama seperti mereka yang ada di Kiri.

Tapi bicara soal revolusi, harus ditekankan lebih dulu bahwa hal tersebut nggak ada kaitannya dengan stereotipikal yang ngebosenin yang biasanya dilakukan oleh para aktifis yang teriak-teriak “Revolusi!” seperti: terorisme, balas dendam, kudeta politik, pimpinan manipulatif yang khotbah terus soal pengorbanan diri, para pengikut yang mirip zombie yang selalu teriak-teriak slogan-slogan klise dan membosankan. Dalam lebih jelasnya, revolusi sama sekali nggak ada kaitannya sama “komunisme” Leninis, alias nggak ada kaitannya sama gerakannya PRD.

Setelah berkuasa bertahun-tahun, Lenin yang memulai karir “revolusionernya” di Russia dan kemudian dilanjutkan oleh Stalin ke beberapa negara, sudah jelas bahwa ideologi mereka benar-benar kontradiktif dengan apa yang disebut masyarakat bebas. Ya, memang, Lenin dan Stalin memang beda, tapi itu bukan perbedaan mendasar, melainkan hanya beda jenis aja, mereka masih satu spesies. Sama-sama busuk. Kalau mau ngebantah, dan bilang kalau Lenin itu sejenis malaikat atau bahkan dewa sehingga ribuan orang masih menganggap buku Lenin itu super sempurna dan tak perlu baca buku lain untuk menganalisa dunia; saya bilang bahwa buku “State and Revolution” tulisan si gundul itu memang memberikan kritik yang koheren, jauh lebih jelas daripada tulisan-tulisan para anarkis; masalahnya cuma, bahwa ada beberapa aspek radikalnya si Lenin yang akhirnya akan mengkamuflasekan prakteknya yang otoriter–lihat Bolshevik.

Dengan nempatin diri atas massa yang dia bilang dia representasikan dan menerapkan hirarki internal di antara para militan partai, Bolshevik pimpinan Lenin telah membuka jalan dan menciptakan kondisi bagi pengembangan Stalinisme. Dan memangnya kapan itu terjadi? Setelah Lenin dikudetakah? Tidak! Itu terjadi saat Lenin masih berkuasa dengan Trotsky sebagai pimpinan Tentara Merahnya.

Maka sudah sangat jelas, model seperti apa yang akan dimapankan oleh para Leninis yang sekarang ini berkembang di berbagai negara. Tapi kita juga harus jelas ngeliat dulu apa yang salah dengan mereka kalau kita ingin sesuatu yang lebih baik. Jika sosialisme berarti partisipasi dari bawah ke atas, berarti partisipasi penuh dari tiap orang adalah sebuah keharusan. Semua orang harus berpartisipasi dalam tiap pengambilan keputusan yang menyangkut hidup orang tersebut. Dan hal ini sama sekali tidak pernah eksis di negara manapun termasuk di “negara komunis”.

Tapi runtuhnya Blok Timur akhir 80-an lalu, bukanlah berarti sempurna dan bagusnya sistem kapitalisme serta bobroknya “komunisme Marxis”. Setiap orang yang nyempetin baca Marx, pasti ngerti bahwa Leninisme adalah pendistorsian pemikiran Marx dan Stalinisme adalah parodi total atas Marx.

Komunisme yang otentiknya adalah berarti memiliki sesuatu yang berhubungan dengan komunal alias segala sesuatu yang menyangkut kehidupan umum dimiliki atas dasar kepemilikan komunal, jelas nggak ada kaitannya dengan apa yang terjadi di negara komunis dimana diberlakukan kepemilikan negara atas segala sesuatunya. Negara komunis nggak ada bedanya dengan negara kapitalis, cuma di negara kapitalis, kepemilikan birokratik negara diganti sama kepemilikan korporasi-pribadi.

Masalahnya, kedua jenis tadi itu sama-sama saling menjadi musuh dalam selimut bagi siapapun yang berusaha menentang sistem-sistem tersebut. Keduanya sama-sama ngebantu oposisi bagi lainnya, komunis membantu mereka yang melawan kapitalis dan kapitalis membantu mereka yang melawan komunis. Tapi keduanya tetap tidak benar-benar membantu para oposisi yang tidak mau mendukung baik itu komunis maupun kapitalis, dan dalam hal ini, inilah point yang harus dicermati oleh kita disini.

Siapa yang menggagalkan Revolusi Paris 1968? Partai Komunis Perancis. Revolusi Spanyol 1936 dikandaskan oleh siapa? Para komunis yang diback-up oleh Russia. Saat ada pemberontakan melawan kediktatoran komunis di Hongaria tahun 1956, mendadak Blok Barat alias kapitalis secara gencar menyoroti masalah tersebut, tapi mereka akhirnya menolak untuk memberikan senjata-senjata anti-tank yang sangat dibutuhkan oleh para insurgen Budapest dalam menghadapi tank-tank Russia karena mereka dianggap juga tidak mendukung program kapitalisme. Pada tahun 1967, Guy Debord mencatat bahwa komunisme telah menyatakan dirinya sebagai “saudara” dari kapitalisme klasik Blok Barat, sehingga mereka berdua sebenarnya adalah oposisi palsu yang sebenarnya menawarkan sebuah sistem yang sama satu dengan lainnya. Jadi lucu kan kalau sekarang para Leninis–yang notabene hanya akan membuka jalan bagi pemapanan Stalinisme–mengaku ingin melawan sistem kapitalisme. They’re all bullshit my friend.

Mengundurkan Diri Tidak Selalu Berarti Pengkhianatan, Melainkan Pengambilalihan Kontrol Individu.

Seorang kawan saya dari Kalimantan bertanya kepada saya beberapa saat lalu saat dia membaca sebuah zine yang isinya menghujat partai Kiri: “Kenapa kamu keluar dari sana?”. Yeah. Bukan hanya dia, bahkan beberapa atau bahkan banyak orang dan kawan-kawan kami selalu bertanya-tanya kenapa saya dan beberapa kawan lainnya mengundurkan diri dari partai Leninis PRD. Bagaimana mereka tidak ingin tahu, saat beberapa tahun ke belakang saya dan beberapa kawan saya militan banget bergerak militan banget dalam partai dan beberapa tahun kemudian kami militan banget nentang partai. Ya sudah, saya ceritakan saja sedikit soal hal tersebut karena memang saya kira berguna bagi masukan untuk siapapun di Indonesia ini yang bergabung atau setidaknya dekat dengan partai tersebut. Saya percaya bahwa tidak semua yang bergabung dengan PRD akan seperti demikian, karena layaknya organisasi-organisasi yang hirarkis, mayoritas statemen mereka hanyalah buah pikiran pribadi mereka para elitnya–bukan suara seluruh anggota.

Kami–tujuh orang termasuk saya–sepakat mundur dari Partai, intinya bukanlah karena kami benar-benar menolak ide-ide mereka dalam melancarkan sebuah gerakan, melainkan karena sikap tertutup mereka.

Pertengahan tahun 2000 lalu, Faisol Reza–salah satu elit Partai–datang menghadiri sebuah pertemuan terbuka di kampus UNPAS Bandung. Tentu saja, cukup banyak anggota Partai yang hadir disana–termasuk salah satu dari keenam kawan dekat saya: Behom (RIP). Saya sendiri tidak sempat hadir karena tugas saya sebagai koordinator Hubungan Internasional alias HI di Komite Pimpinan Kota (KPK) PRD Bandung, jadi ya saya hanya mendapat laporan tentang kejadian di UNPAS tersebut dari Behom.

Behom bercerita, bahwa pada awal hingga akhir, pertemuan tersebut dihadiri oleh banyak sekali mahasiswa dan organisasi-organisasi gerakan mahasiswa, dan semua berjalaan lancar alias tak ada konflik atau apapun. Hingga mendadak, pada sesi tanya jawab yang paling akhir–ya paling akhir–sebelum acara tersebut ditutup, seorang mahasiswa berdiri dan mengajukan pertanyaan kepada Faisol Reza: “Bagaimana tanggapan PRD sebagai Partai Kiri menyikapi para anarkis yang mulai berkembang seperti misalnya di kota Bandung?” Faisol Reza diam sejenak, mengambil nafas panjang dan dalam, kemudian dengan lambat dan jelas dia menjawab: “Secara tegas saya tekankan, bahwa kami semua di PRD, menganggap bahwa anarkisme itu sama haramnya dengan kapitalisme.”

Tak ada tanggapan lain. Semua hening. Hanya itu. Ya, hanya itu. Kalimat yang cukup pendek tapi ternyata mampu membuat sebuah masalah meledak berkepanjangan. Itu jugalah yang membuat Behom terdiam, marah, kecewa, terkejut, semua bercampur menjadi satu.

Malam harinya, mendadak Behom mengadakan rapat tertutup dan hanya dihadiri oleh ketujuh dari kami itu yang pada saat itu kami masih mengklaim diri kami sebagai anarkis; dan kami mendengar Behom menceritakannya dengan sangat mendetail. Semua tetap tenang sampai akhir. Lantas terdiam, dan beberapa detik kemudian semua meledak marah . . . Faisol Reza tai babi! Dan karena dia berkata atas nama semua di PRD, maka PRD juga tai babi! Induknya tai babi malah!

Dalam waktu singkat, sebuah surat pengunduran diri segera disusun dan diedarkan untuk ditandatangani oleh kami bertujuh. Esoknya, masih dengan marah, kami berikan surat tersebut ke sekretariat serta mulai saat itu memutuskan tali hubungan dengan mereka sebagaimana kami menggunting seutas benang tak terpakai dari kaos oblong yang kami kenakan.

Mungkin beberapa dari kalian akan menganggap bahwa kami telah bertindak terlalu reaksioner, tapi inti masalahnya bukan itu. Bagi kami, masalah itu memang sangat fatal tapi itu hanya katup dari seluruh konflik-konflik kecil kami selama sebelumnya. Kami dibesarkan dengan tulisan-tulisan anarkis, dan tulisantulisan tersebut itu jugalah yang membawa kami untuk bekerja sama dengan PRD. Setelah kami bergabung, kami memang sering berdebat mengenai masalah anarkisme dengan mereka. Tapi mereka menolak. Okelah, kami pelajari dulu ajaran Marx dan Lenin agar kami dapat lebih memahami mereka. Oke oke, kami belajar. Kami mempelajari apa-apa yang sebelumnya kami tentang seperti masalah kediktatoran proletariat misalnya agar wawasan kami lebih luas dan kami dapat mengerti mereka.

Begitulah, kami lahap semua materi yang selalu mereka geluti. Mulai dari Engels, Marx hingga Lenin. Bahkan kami juga mempelajari Stalinisme yang termanifestasikan dalam gerakan PKI. Saat ada kesempatan, saya pribadi juga mempelajari gerakan sosialismenya Syahrir di Indonesia–sesuatu yang mereka benci. Intinya, apapun yang bisa saya lahap, akan saya lahap. Tidak hanya mempelajari teori, saya juga belajar untuk memobilisasi massa, membangun gerakan bawah tanah, mengenal peta perpolitikan Indonesia.

Beberapa kawan saya yang mengaku apolitik berkata pada saya, “Politik itu kejam.” Oits, iya, saya akui politik pemerintahan itu kejam. Tapi buat saya, lebih mmm . . . lebih baik rasanya kalau saya tahu saat seseorang yang duduk di gedung pusat Jakarta membuat keputusan yang akhirnya mengorbankan kehidupan saya di kota ini. Dan tentu saja saya merasa lebih nyaman kalau saya tahu bahwa saya tidak akan bisa ditipu dengan cara kuno seperti itu.

Hal-hal itu semualah yang saya pelajari dalam PRD. Intinya saya jadi jauh lebih ngerti tentang bagaimana dunia busuk ini berjalan daripada sebelumnya, tentang siapa saya, siapa yang membuat hidup di dunia ini jadi begitu memilukan, tentang siapa nanti kawan-kawan saya saat saya memiliki sebuah impian yang hendak saya capai serta siapa musuh-musuh yang bisa saya gunakan. Itulah semuanya.

Oke, saya memahami PRD beserta seluruh kebijakan dan program-programnya. Masih di dalam Partai, saya sempat menyusun ratusan judul buku-buku dan pamflet yang saya pikir PRD harus tahu karena itulah yang selama ini kami geluti. Niatnya sih agar PRD juga bisa memahami diri saya selain hanya saya yang bisa memahami mereka. Ya, saya berikan daftar tersebut. Tapi apakah kalian bisa menbak apa komentar seorang elit mereka? “Anjisss, mau ngeracunin gua ya? Mau nyuci otak ya?” Monyet.

Daftar tersebut diletakkan setelah hanya dibolak-balik sepintas. Saya jadi ngomong lagi: “Itu bacaan yang udah ngebawa anak-anak ke posisi seperti sekarang ini. Ya itu biar kalian ngertiin kami juga dong, dan kalau nggak setuju kan bisa diksusinya.”

“Ah, cukup ngerti buku-buku Marx dan Lenin, selesai semua masalah di dunia.” Monyet terkutuk. Dia mulai bertingkah seperti layaknya para fasis.

Iya sih, hampir semua bacaan yang kami miliki adlah materi soal anarkisme. Ya tapi kenapa? Kami berusaha memahami mereka, tapi kenapa mereka menolak memahami kami? Memahami saya? Memahami mereka yang berbeda dengan diri mereka? Lalu apakah salah apabila lantas kami bertujuh mengundurkan diri secara mendadak sesaat setelah Faisol Reza memberikan pernyataan terbukanya dan dengan mengatas namakan seluruh Partai? Saya kira tindakan kami tepat.

Mereka semua terpukul dengan mundurnya kami. Bagaimana tidak, kami telah menempati posisi-posisi dalam komite pimpinan kota. Dan hilangnya orang-orang di posisi tersebut secara mendadak jelas mengacaukan koordinasi di tingkatan kota, yang tentu mengacaukan koordinasi wilayah yang akhirnya memusingkan koordinasi nasional.

Kasus segera diusut, karena ternyata PRD belum pernah mengalami kasus pengunduran diri mereka hanya mengenal pemecatan. Sebelum-sebelumnya, bila ada anggota mereka yang memiliki masalah dalam Partai dan tidak terselesaikan, biasanya orang tersebut mencari-cari masalah lain agar akhirnya dipecat. Ohohoho . . . buat kami, kamilah yang harus menentukan secara langsung hidup kami sendiri. Mengndurkan diri berarti keputusan ada pada kami sendiri sementara dipecat berarti keputusan ada di pihak mereka. Enak aja.

Itu juga pelajaran yang ingin kami sampaikan pada mereka: bahwa setiap individulah yang seharusnya menentukan semua hal yang berpengaruh pada hidup individu tersebut. Itu inti yang harus ditekankan dalam “tatanan masyarakat sosialis”.

Cara Kami Adalah Juga Pesan Kami. Medium Is The Message.

Komite Pusat terpukul telak. Orang-orang Partai yang dianggap paling dekat dengan kami dipanggil dan ditanyai dengan harapan orang-orang tersebutlah yang paling mengerti diri kami sehingga bisa memperbaiki keadaan.

Ha! Mengerti kami dan memperbaiki keadaan? Bahkan kalianpun menolak untuk memahami bahasa kami, bagaimana kalian akan bisa mengerti kami? Saya tahu di PRD pasti jarang ada yang nonton film, tapi seandainya ada yang pernah nonton film Columbus: The Conquer To Paradise, tentu ingat adegan yang paling saya sukai: Saat para indian yang diperbudak melakukan pemberontakan, Columbus tidak bisa memahami penyebab pemberontakan tersebut. Sebelum seorang indian kepercayaannya hendak pergi dan memutuskan untuk bergabung dengan pemberontak dan melawan Spanyol, melawan Columbus sendiri, Columbus bertanya: “Mengapa?” Sang Indian berbalik dan berkata datar: “Engkau ingin mengerti mengapa ini semua terjadi, tetapi semenjak engkau kemari, engkau tak pernah mempelajari diri kami, bahkan engkau tak pernah mau berbicara dengan bahasa kami. Engkau tak akan pernah dapat mengerti.” Sang Indian kemudian berbalik lagi, berlari menuju kegelapan malam, menuju hutan dan kebebasannya serta meninggalkan Columbus yang memang tidak pernah dapat mengerti.

Seandainya kalian di PRD pernah menonton dan mengerti esensi yang tersembunyi dalam film tersebut. Oh, maaf! Saya lupa. Bukankah bagi kalian semua film Hollywood adalah produk borjuis yang hanya cocok dikonsumsi oleh kelas borjuis? Oh ya, saya baru ingat. Maafkan saya, betapa bodohnya saya telah mengajak kalian berbicara mengenai film.

Yeah. PRD sibuk bertanya-tanya soal kami. Tapi percayalah, kalian di PRD tak akan pernah bisa mengerti kami karena PRD juga memang tidak perlu mengerti setiap individu, kalian hanya perlu semua individu mengerti ide-ide kalian dan mendukung program kalian tanpa banyak tanya.

Dan saya memang benar: kalian tidak bisa mengerti kebenaran lain selain kebenaran kalian sendiri. Setelah keluarnya kami, kalian tidak berubah jugsa sama sekali. Kalian tidak mengambil pelajaran apapun dari apa-apa yang kalian alami, pelajaran bagi kalian adalah pelajaran yang sesuai dengan Karl Marx dan Lenin. Buktinya? Setelah dua tahun lebih, saat kalian di PRD menghubungi kami lagi, kalian ternyata masih mengenal hanya Marx dan Lenin. Sedih gitu sih, apa saja kerja kalian selama ini woooi???

Lalu, apa lantas saya berharap PRD dan para kaum Kiri akan dapat mengerti setelah saya
membuat tulisan ini? Sama sekali tidak. Bukan itu tujuan saya disini. Itu juga alasannya kenapa disini saya sama sekali tidak memperdebatkan dalam tataran yang lebih teoritis tentang ketidaksetujuan saya dengan ideologi Lenin dan yang dianut PRD, saya hanya mengungkapkan kegelisahan saya pribadi. Lagipula, bukankah ada yang juga sama pentingnya dengan hal-hal yang teoritis tersebut? Satu yang tidak boleh lupa: hubungan antar manusia.

Ok, buktikan kalau saya salah.

Disclaimer:
Semua tulisan dalam zine ini tidak dimaksudkan agar para pembaca tidak bergabung dengan partai komunis–dalam hal ini PRD (karena PKI sudah sungguh-sungguh membusuk dalam liang kubur. Tapi sekedar agar kalian tahu bahwa kebenaran dunia tidak hanya berada pada tangan mereka (sebab banyak yang bergabung dengan mereka menganggap dirinya sebagai “yang paling benar”). Saya juga tidak berniat membahas hal-hal yang sifatnya lebih teoritis disini, saya ingin membeberkan pengalaman saya dan perasaan saya terhadap sikap dan pola pikir mereka yang seharusnya tak terpisahkan dengan kehidupan keseharian, karena mengharap dunia berubah tanpa peduli untuk merubah hidup sehari-hari sama saja dengan seorang utopis yang pemimpi. Untuk hal yang lebih teoritis, saya telah memberikan sebuah list pendek dari pamflet dan buku yang saya punya dan yang ingin mendapatkannya bisa menghubungi saya.

Tapi terus terang, mereka yang telah memegang kebenaran absolut dari Lenin jelas tidak akan pernah bisa mengerti semua isi tulisan tersebut; ini juga alasan saya tidak membahas hal-hal teoritis disini. Tingkah laku dan apa yang dilakukan sehari-hari saya kira lebih mencerminkan pola pikir seseorang, bukan sekedar hanya sesuatu yang terucapkan oleh mulut. Tapi, toh mereka juga yang telah memberikan banyak konribusi dalam pola pikir dan tindakan saya sekarang ini, sayang, mereka tidak mengenal kata “perubahan” dalam diri mereka sendiri. Jadi untuk yang ingin bergabung dengan PRD, saya hanya ucapkan sebuah pesan: “hati-hati ketika engkau bermain-main dengan sebuah pedang yang bermata dua.”

Catatan Tambahan:

Tulisan ini dibuat pada tahun 2000 oleh Pam. Pada saat di PRD, posisi pam adalah sebagai Divisi Hubungan Luar Negeri di Komite Pimpinan Wilayah Jawa Barat. Tulisan ini dibuat berdasarkan apa yang dirasakan sendiri oleh penulis dan kawan-kawan dekatnya saat berada di PRD. Beberapa hal mungkin telah berubah, tapi secara esensial, tulisan ini masih sangat relevan untuk dibahas dan dipublikasikan.

Rekomendasi Bahan Bacaan Tentang Betapa Busuknya Kaum Kiri.

The Struggle Against Fascism Begins With The Struggle Against
Bolshevikism – Otto Ruhle
Anarchism Versus Socialism – Nicholas Walter
Cuba: The Anarchists And Liberty – Frank Fernandez
The Kronstadt Uprising of 1921 – Lynne Thorndycraft
Polytechnic School 19731990: History of Anarchists Struggle In Greek –
Anonymus
Syndicalism In Russian Revolution — G. Maximoff
Homage To Catalonia – George Orwell
Public Secret – Ken Knabb
Beneath The Paving Stones: Situationists And The Beach, Paris 1968 –
Black Star Collective
The Revolution Is Not A Party Affair – Otto Ruhle
Empire – Michael Hardt and Antonio Negri
Your Politics Are Boring As Fuck – CrimethInc.

Solidaritas Untuk Kawan-kawan Yogyakarta! (AUSTRALIA)

Solidarity with Anarchists in Yogyakarta, Indonesia from Narrm / Melbourne ( so-called Australia ) Anarchists.

Banner reads ‘Solidarity with Yogja Comrades
May Day Setiap Hari ( May Day Every Day )’

On May Day in Yogyakarta 69 comrades were arrested. There has since been a huge crackdown involving raids and more arrests based on flimsy evidence. At present there are 11 comrades still locked up in Yogyakarta Police Prison, they are isolated and not allowed any contact with comrades outside.

This has only strengthened the resolve of the comrades to keep up the fight against the feudal system ruling Yogja and the Kraton (palace) of the so called sultan.

There is a fundraising drive to raise money for legal assistance which has been largely local however there is a paypal account here for donations outside Indonsia. https://www.paypal.me/TobiVBonano

Mengusik Apa Yang Tidak Terusik: Introduksi mengenai Sanggama antara Feodalisme dan Seni di Jogjakarta

Tulisan ini ditulis pada 2008 dan dimuat di Jurnal Amorfati edisi 3

 

Kasus petani Kulon Progo (Paguyuban Petani Lahan Pasir) melawan perusahaan tambang besi Jogjakarta Magasa Iron, yang mana salah satu pemiliknya adalah GKR Pembayun (Putri Sultan), jelas merupakan kasus yang memiliki implikasi feodalisme yang kuat. Betapa tidak, secara legalitas, petani memiliki hampir semua prasyarat untuk mengklaim bahwa mereka berhak berada, bercocok tanam, dan tinggal di tanah tersebut. Satu-satunya faktor yang menghalangi hanyalah kekuatan modal dan klaim feodal atas tanah-tanah yang konon milik Paku Alaman. Menanggapi kasus ini, saya menjadi teringat pengalaman sewaktu bekerja di salah satu instansi yang diwewenangi oleh Sultan, Jogja National Museum. Di tempat tersebut banyak bernaung seniman-seniman lokal, beberapa di antaranya telah kukenal. Museum tersebut pun khusyuk dengan even-even untuk menyemarakkan dan merayakan komodifikasi seni sebagai komoditas yang menjanjikan di pasar. Meski singkat berada di tempat itu, aku cukup sadar akan infiltrasi terang-terangan atas “komunitas seni” Jogjakarta oleh Sultan. Kepala yayasan institusi tersebut merupakan menantu dari Sultan, suami dari Pembayun, yang notabene adalah majikanku sewaktu bekerja di sana. Hiruk-pikuk dunia seni memang tidak pernah aku pahami. Di antara tiap Red Wine yang tertuang di tiap gelas sang seniman, kolektor, dan kurator, aku merasakan kejijikan. Entah kenapa. Barangkali sentimen kelas. Atau mungkin karena aku tidak merasa menjadi bagian dari “kelas kreatif ” semacam seniman. Diriku merasa kerdil di antara golongan kelas yang lebih “superior” dari diriku. Sementara itu, di tempat kerja tersebut aku senantiasa berhadapan dengan para teknisi, satpam, dan pekerja lapangan lainnya dengan keluh-kesah mereka. Sementara para seniman berpesta, merayakan, dan mengglorifikasikan komodifikasi seni. Aku merasakan kejanggalan ketika mengingat fakta bahwa gedung yang sekarang dijadikan ruang seni mahabesar tersebut dulunya adalah squat. Squat merupakan istilah gedung kosong yang ditempati secara ilegal oleh para aktivis prodem dan “anarkis”. Setahuku, memang banyak anarkis luar negeri yang mondar-mandir di sana ketika tempat itu masih menjadi squat. Seorang kawan, bertahun-tahun lalu, pernah bertandang ke squat itu dan pergi dengan kecewa ketika “sang senior” tempat tersebut tidak menyetujui ia dan pacarnya tidur bersama di satu ruangan. Suatu moralitas aneh bagi tempat yang sering dinaungi oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai anarkis atau label-label radikal lainnya. Squat tersebut bubar setelah beberapa kali direpresi hebat dan pada akhirnya gedung tersebut diambilalih oleh Sultan.

 

Baru sekitar dua bulan bekerja aku segera keluar. Lantaran tidak tahan dengan dunia kerja. Kemonotonan hari kerja. Ditambah dengan satu pernyataan yang membuatku benarbenar gusar, “Besok, bilang ke panitia Biennale, waktu menyambut Sultan, jangan bilang Gubernur Jogja, tapi Raja Jogja….” Tapi aku tidak serta-merta marah. Barangkali residu patuh selama dua bulan karena menjual harga diriku sebagai pekerja membuatku menjadi seperti itu. Aku masih butuh sekitar 15 menit sambil menuruni tangga tatkala aku mulai merefleksikan kata-katanya dan semua yang aku alami selama bekerja di situ. Tanpa berpikir panjang— meski hari itu ada beberapa acara yang masih harus diatur—aku langsung menuju garasi, menjemput motor, dan tancap gas dengan senyuman lebar. Selang setahun, ketika gejolak petani Kulon Progo makin kuat dalam penentangan mereka terhadap tambang besi dan klaim feodal Sultan atas tanah petani, aku sama sekali tak pernah mendengar adanya sikap seniman Jogja tentang masalah ini. Perlu dicatat bahwa ruang seni tersebut dinaungi atau bahkan didominasi oleh para eks-squatternya yang dulu. Sehingga, secara sepintas memang bisa dibenarkan bahwa para seniman tersebut diberikan privilise tertentu. Apakah suatu kebetulan jika mereka memang bungkam. Kulon Progo bukanlah daerah yang kelewat jauh untuk tidak dapat terdengar oleh mereka. Apalagi liputan setiap aksi petani selalu mendapat perhatian besar sehingga tambang harus tertunda. Belum lagi para seniman selatan yang terkenal menghasilkan karya-karya realisme-sosialis dan sering membanggakan label mereka sebagai “seniman kerakyatan”. Aku tidak akan menodai tulisan ini dengan keluhan kaum kiri, “kamu seharusnya lebih prorakyat”. Sama sekali tidak! Aku juga tidak menuntut mereka konsisten dengan aliran seni mereka, lantaran aku juga tidak percaya dengan “seni”}. Petani Kulon Progo layak diberikan solidaritas bukan karena mereka rakyat kecil tapi karena mereka telah menunjukan keberanian dan harga diri mereka secara mengagumkan. Itulah salah satu alasanku kenapa membangun solidaritas, bukan atas dasar rasa kasihan atau filantropi palsu kelas menengah.

Sampai di sini, dimanakah konteks kesadaran kelas dalam kasus ini? Apakah Sultan cukup berhasil melakukan hegemoni secara sosial, kultural, dan politis, bahkan di suatu kalangan kelas yang digolongkan “memiliki kesadaran politis”. Ataukah kesadaran tersebut juga hanya menjadi imaji, sesuatu yang hanya hip dalam lirik lagu dan di atas kanvas. Argumen basi, memang. Tetapi dengan melihatnya begitu dekat, tampaknya memang terlalu vulgar untuk diacuhkan. Seorang kawan yang berasal dari kalangan tersebut, ketika ditanya posisinya mengenai isu tersebut menyatakan ketidakberdayaannya bila harus berhadapan langsung melawan hegemoni feodal Sultan. Feodal namun juga sangat posmodern (bagi mereka yang suka sok-sok menihilkan semuanya!). Haruskah mereka membuat serikat pekerja seni untuk menyatakan aspirasi mereka? Sepertinya tidak. Cukup aneh bagi kalangan seperti itu untuk mengemis hak mereka di mana dunia yang penuh “privilise” berada di sekitar mereka.

Di era Stalinis realisme-sosialis pernah digunakan rezim komunis untuk menindas setiap interpretasi seni yang tidak melayani kepentingan ideologi komunis. Jogja National Museum juga adalah ruang bagi banyak “subkultur anak muda” yang memanfaatkan tempat tersebut sebagai wadah “berkesenian”. Dalam hal ini mereka tidak terlihat melayani sesuatu ideologi apa pun. Ada kebebasan berekspresi dan berkesenian. Paling tidak, itulah yang aku lihat dari wacana yang hendak dikomunikasikan oleh ruang tersebut. Namun relasi hierarkis tidak terusik. Tidak ada vulgaritas melawan kekuasaan nyata yang dominan, selain hanya vulgaritas sanggama antara seni perlawanan dengan kekuasaan. Bayangkan, seorang Johnny Rotten menyanyikan God Save the Quuen di pekarangan Istana Buckhingham dengan dijaga ketat oleh pasukan kerajaan. Ratu Elizabeth menonton dengan senyuman dari balkon. Semuanya sudah difasilitasi, untuk apa berontak? Dengan demikian, seperti halnya tong yang kosong, nihilisme itu seperti nihil yang berarti “kosong atau tidak ada apa-apa”, yang tentunya sangat mudah untuk diisi. Di Jogja National Museum kalian bisa melihat pagelaran seni realisme-sosialis dan “seni untuk seni” campur aduk dalam satu ruang. Ruang tersebut sesungguhnya menghamba pada satu ideologi. Ideologi yang menghendaki petani Kulon Progo hengkang dari tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka. Ideologi yang menghendaki penumpasan alam. Ideologi, yang menghendaki seorang kawan kami berkata, “Wah aku nggak ikut-ikut kalo soal itu.”

 

*Tujuan artikel ini bukanlah untuk “merevitalisasi seni realisme-sosialis” dengan menghimbau para seniman melalui kritik. Akan tetapi, merupakan suatu refleksi, atas bagaimana hegemoni dapat menjadi sesubtil dan bersembunyi di balik “ruang bebas berekspresi” yang pada kenyataannya mengutamakan kebungkaman serta konformisme yang abadi.

 

*Maksudnya, bukanlah kawan kami ini tidak punya inisiatif atau kesadaran politis, atau bahkan keberanian politis. Kenyataannya Kesultanan Jogjakarta sangat mengakomodir setiap potensi seni, budaya, dan intelektualisme yang menjadi daya tarik khusus kota ini. Oleh karena kondisi hegemonik ini, membuat banyak sekali kawan atau bahkan para “akademisi radikal” tidak cukup vokal untuk menyatakan sikap. Dan bagaimana pernyataan di atas juga menyiratkan hegemoni Kesultanan dalam sekali tangkap.

Fumiko Kaneko dan Sepi Sebagai Temannya

Tulisan ini dicuri dari www.melancholiadespair.wordpress.com

Belum lama ini, tayang sebuah film yang disutradarai oleh Lee Joon-Ik, film yang berjudul Anarchist from Colony tersebut sedikitnya berhasil menarik perhatian para penggemar film, terutama para anarkis. Film berdurasi 129 menit yang diangkat dari kisah nyata itu menceritakan perjuangan seorang anarkis bernama Park Yeol dan kawan-kawannya yang berasal dari Korea dan tinggal di Jepang, di masa di mana Korea berada di bawah kendali Jepang. Mereka bersama-sama merencanakan sebuah misi rahasia, tak lain, menerror kekaisan Jepang.

Film tersebut juga dibungkus dengan kisah romansa antara Park dan seorang nihilis asal Jepang yang bernama Fumiko Kaneko. Ketika kekacauan pecah pasca gempa bumi Kantō pada 1 September 1923, terjadi berbagai kasus pembantaian terhadap orang-orang Korea, dan mereka yang dianggap sebagai pemberontak ditangkap. Satu hari setelah gempa bumi hebat tersebut, Park dan kawan-kawannya ditangkap dan di penjara. Kemudian, ketika diinterogasi, Park mengaku kepada pihak keamanan Jepang bahwa ia yang merencanakan semua terror, sehingga kawan-kawannya dibebaskan. Tapi tidak dengan Fumiko. Gadis berusia 26 tahun itu justru mengatakan sebaliknya kepada pihak keamanan, Fumiko mengaku bahwa ia mengetahui dan menyusun rencana terror tersebut bersama Park, pernyataan tersebut membuat Fumiko tidak dibebaskan.

Tapi, tulisan ini bukanlah sebuah review film, bukan juga fokus terhadap keberanian Park Yeol yang individualistik, melainkan tulisan yang akan membuat kita sedikit lebih jauh mengenal Fumiko Kaneko.

Fumiko Kaneko, lahir di Yokohama pada 25 Januari 1903. Ia lahir dari seorang Ayah mantan Polisi alkoholik yang kasar, dan Ibunya adalah seorang buruh. Kedua orang tuanya tidak menikah secara legal, sehingga Fumiko menjadi seorang anak yang tak terdaftar, hal tersebut juga membuat Fumiko “tak pantas” menyandang nama Saeki sebagai nama keturunan Ayahnya, Fumikazu Saeki, sehingga Fumiko diberi nama akhir Kaneko, dari Ibunya, Kikuno Kaneko. Karena status dirinya sebagai anak yang tak terdaftar tersebutlah yang akhirnya membuat Fumiko tidak memiliki akses terhadap pendidikan formal dan seakan-akan dikucilkan oleh masyarakat.

Setelah Ayahnya pergi, Ibunya sempat beberapa kali menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tapi hubungan tersebut tak satu pun ada yang berjalan baik, mereka tetap hidup dalam kemiskinan. Ketika frustasi Ibunya memuncak, ia tak lagi memiliki solusi lain selain berencana menjual Fumiko kepada prostitusi. Tapi rencana itu batal setelah Ibunya mengetahui bahwa Fumiko akan dikirim ke wilayah lain di Jepang.

Masa-masa sulit berlalu, Ibunya menikah lagi dan mengirim Fumiko ke Korea untuk tinggal di Bugang bersama Neneknya. Fumiko cukup senang dengan keputusan tersebut, karena Neneknya berjanji akan mengadopsinya dan memberikan pendidikan yang baik untuknya. Tapi tak banyak yang berubah, ia tak pernah benar-benar diadopsi dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bahkan setelah beberapa tahun, Fumiko cenderung kembali dikucilkan karena ia disebut tidak pantas menyandang nama Iwashita dari Neneknya. Tak hanya itu, Nenek dan Bibinya juga seakan-akan menjadikan Fumiko sebagai pembantu rumah tangga.

Fumiko masih bisa sedikit merasa senang, karena setidaknya ia bisa mengenyam pendidikan formal di Korea. Tapi hidup tak selalu berjalan sesuai apa yang diharapkan. Awalnya, Fumiko dijanjikan untuk mendapat pendidikan yang baik dan layak agar kelak ia bisa masuk perguruan tinggi, tapi kemudian Fumiko hanya diberi kesempatan sekolah hingga ia di bangku Sekolah Menengah Pertama, ia juga dilarang untuk membaca atau mempelajari hal lain yang tak ada hubungannya dengan pelajaran di sekolah. Setelah masa sekolahnya berakhir, Fumiko menghabiskan waktu untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah dan seringkali mendapatkan kekerasan dari Nenek dan Bibinya yang akhirnya membuat ia terkadang berpikir untuk bunuh diri. Pengalamannya di Korea tersebut, tercatat di dalam sebuah memoar yang ia tulis ketika ia di penjara, Fumiko menyebut masa-masa di Korea sebagai salah satu masa tersulit dalam hidupnya.

Fumiko tak pernah benar-benar merasa bahagia di Korea, selain perlakuan kasar dari Nenek dan Bibinya, penderitaan yang dialami Fumiko juga ditambah dengan rasa kesepian karena ia dilarang bergaul (Di sekolah, Fumiko cenderung lebih senang bergaul dengan lelaki, dan Neneknya tak menyukai itu). Jadi, ia menyimpan semua rasa sakit dan penderitaannya sendiri. Ya, hanya ia dan dirinya.

Pada Maret 1919, tepat sebelum Fumiko dikirim kembali ke Jepang, orang Korea mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut kemerdekaan bangsanya. Sedikitnya 2000 orang Korea kehilangan nyawa mereka, dan 20.000 lainnya ditangkap. Akibat perlakuan kasar yang ia terima dari orang tua dan Neneknya, serta pengamatannya terhadap pemerintahan militer Jepang yang keras di Korea, kemudian mengkondisikan Fumiko untuk memberontak dan melawan semua orang dan institusi yang otoriter. Dari kehidupan yang sulit, kesepian, dan kesengsaraan tersebutlah yang membentuk kepribadiannya menjadi kuat yang pada akhirnya ia berbalik melawan semua otoritas dan memeluk filsafat nihilistik dan anarkis dalam kehidupan.

Akhirnya Fumiko kembali ke Jepang, dan pergi ke Tokyo pada tahun 1920 setelah menolak permintaan keluarganya untuk menikah sesuai tradisi. Di Tokyo, ia hidup dan berjuang sendiri, melanjutkan sekolahnya sekaligus bekerja sebagai gadis penjual koran, seperti yang juga ia cantumkan dalam memoarnya, penjual sabun, dan pelayan. Selain nihilisme dan anarkisme yang membentuk pandangan Fumiko terhadap kehidupan, ia juga bisa disebut sebagai feminis, itu terbukti dengan dirinya yang lebih tertarik untuk mempelajari matematika, bahasa Inggris, Cina klasik, dan akhirnya masuk sekolah kedokteran, ia memilih sekolah yang lebih dominan dihadiri oleh lelaki.

Feminismenya terungkap saat ia menyatakan bahwa ia ingin memenangi kompetisi akademis dengan para lelaki. Meskipun pendidikan formalnya tidak jelas, Fumiko memang orang yang cerdas. Ia membaca secara ekstensif dan terinspirari oleh gagasan Bergson, Herbert dan Hegel. Fumiko juga sangat terkesan oleh pemikir nihilis seperti Nietzsche, Stirner dan Artsybashev. Fumiko percaya bahwa menyatakan diri adalah perlawanan politik terbaik, bahwa anarki bisa menjadi individualistik, bahwa masyarakat hanyalah benalu yang menggerogoti di mana selalu yang kuat melahap yang lemah, dan bahwa gerakan politik tidaklah memberikan kelegaan apa pun. “Apakah itu revolusi, jika hanya mengganti satu kekuasaan dengan yang lainnya?” Tulisnya dalam memoarnya.

Satu-satunya tindakan yang layak, Fumiko berpikir, adalah untuk “mempertaruhkan nyawa(nya)” pada pemberontakan melawan otoritas. Di penjara, ia menulis bahwa kematian adalah kebebasan, “jika seseorang memiliki kehendak untuk mati!”

Seperti apa yang sebelumnya ditulis diawal, ketika diinterogasi, Fumiko memberikan pernyataan yang justru seakan-akan bertentangan dengan pernyataan Park, yang membuat Fumiko tak dibebaskan dari penjara. Tapi itulah yang ia mau, ia tetap ceria ketika pertama kali ditahan pada Juli 1925. Bahkan ia masih ceria ketika ia dan Park dituduh melakukan pengkhianatan tinggi dengan rencana merobohkan kekaisaran Jepang, tuduhan tersebut diberikan tanpa bukti yang jelas, dibuat hanya untuk mencari pembenaran atas pembunuhan orang-orang Korea dan menunjukan bahwa orang Korea yang berbahaya adalah mereka yang berada di luar negeri.

Fumiko dan Park menghabiskan masa-masa di penjara dengan berbagai permintaan aneh, seperti kekeuh ingin saling mengirim surat dan di foto menggunakan pakaian tradisional Jepang di ruang interogasi. Fumiko sangat nyaman berada di sisi Park, ia tak lagi merasa kesepian, sehingga ia akan melakukan apa pun agar ia tetap bersama Park. Di masa-masa itu jugalah Fumiko menulis memoarnya dengan pena dan kertas yang ia dapat dengan sedikit memohon kepada pihak keamanan.

Hari demi hari berlalu, dan pada 25 Maret 1926, untuk pertama kalinya, Fumiko semakin dekat dengan apa yang ia sebut kebebasan. Pada hari itu, Fumiko dan Park akhirnya dijatuhi hukuman mati. Walau pun banyak media asing dan pengacara yang membela mereka, mereka tak menginginkan itu, mereka menganggap hukuman mati tersebut sebagai opsi terbaik.

Park memiliki perasaan yang sama, Park ingin tetap bersama dengan Fumiko. Park yang juga kesepian, sakit dan hanya tinggal di rumah kawan-kawannya yang berbeda hampir setiap malam, seperti puisinya yang berjudul “Anjing Liar”, merasakan koneksi yang lain ketika ia mengenal Fumiko. Itulah yang membuat Park, sebelum hukuman mati dilakukan, meminta agar nantinya Fumiko dimakamkan di pemakaman keluarganya di Korea, agar setidaknya, Fumiko merasa memiliki keluarga.

Tapi, 10 hari kemudian, semuanya berubah, hukuman mati dibatalkan untuk menjaga citra kekaisaran Jepang yang terkenal adil dan bijaksana. Dengan berat, Park menerima keputusan itu, tapi Fumiko menolaknya dan berkata “Kau mempermainkan kehidupan orang-orang, membunuh atau membiarkan hidup sesuai keinginanmu sendiri. Apakah aku harus dibuang sesuai dengan keinginanmu juga?”

Keduanya kemudian dikirim ke penjara di Utsunomiya, tapi mereka tak pernah lagi bertemu dan bahkan tak lagi saling mengirim surat. Fumiko kembali ke kesepian yang dulu ia rasakan, ia menjadi pendiam dan selalu menolak untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan di penjara. Tapi sekitar tiga bulan kemudian, ia meminta agar ia diberi izin untuk bekerja menenun tali seperti tahanan lainnya. Keesokan paginya, pada 23 Juli 1926, ia ditemukan telah menggantung dirinya dengan tali yang telah ditenunnya. Walau ada beberapa hal mencurigakan di kematian Fumiko, para dokter yang melakukan otopsinya merasa tersentuh dan kagum, “tindakan bunuh diri yang direncanakan dengan cermat, dan tenang.”

Park terpukul atas kematian Fumiko, ia juga sedikit merasa kecewa karena Fumiko tak menepati janjinya untuk mati bersama. Park menjalani masa-masa hukuman dengan sulit dan seringkali melakulan mogok makan. Ia kemudian dibebaskan setelah Perang Dunia II berakhir.

Fumiko dan Park ketika di foto menggunakan pakaian tradisional Jepang di ruang interogasi, saat itu juga Park mengajukan pernikahan legal dengan Fumiko.

Hingga kematiannya, kesepian tak pernah benar-benar meninggalkan Fumiko, seakan-akan menjadi teman yang selalu ada di setiap fase kehidupan yang ia jalani. Walau pun sempat mengenal Park dan menemukan sedikit alasan untuk tetap hidup, ternyata kehidupan selalu memberi kejutan yang tak terduga. Harapan-harapan hancur bahkan sebelum rencana selesai dibuat dengan sempurna, itulah yang terjadi kepada Fumiko. Masa kecil penuh kekerasan dan belenggu kemiskinan, masa remaja yang diawasi dan dibatasi, hingga ia dewasa pun ia tak pernah benar-benar memiliki keadilan setelah keinginannya untuk tetap bersama Park hingga mati harus pupus oleh pihak keamanan Jepang yang sewenang-wenang.

Fumiko Kaneko, seorang gadis yang tak membiarkan dirinya mempercayai siapa pun atau apa pun selain ego. Dan sumpah, keinginan, harapan, atau apapun itu, tidak selalu menjadi kenyataan. Mungkin ketika di ruang sidang ia berpikir bahwa Park akan memilih untuk tetap hidup. Mungkin hal itu meyakinkannya tentang apa yang ia curigai selama ini: bahwa hanya ada dirinya sendiri, dan akan selalu sendiri.

Di penjara sebelum Fumiko ditemukan bunuh diri, ia menulis puisi. Salah satunya ditemukan setelah ia mati:

“Ganja kecil itu melilit di jariku. Ketika aku menariknya dengan lembut, itu terdengar agak samar, “Aku ingin hidup,” Berharap untuk tak tertarik keluar, menggali tumitnya sendiri. Aku merasa sedih, sangat sedih. Apakah ini akhir dari perjuangan yang pahit untuk hidup? Aku tertawa terbahak-bahak.”